BelajarTani.com Holtikultura Cara Menanam Cabai/Cabe Panduan Lengkap Bagi Pemula [2021]

Cara Menanam Cabai/Cabe Panduan Lengkap Bagi Pemula [2021]

Cara Menanam Cabai/Cabe Panduan Lengkap Untuk Pemula – Cabai merupakan sayuran yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Tanaman cabai memiliki daya adaptasi yang luas sehingga bisa ditanam mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi.

Di masyarakat cabai yang dibudidayakan pada umumnya yaitu cabai rawit, cabai merah besar dan cabai merah keriting.

Tanaman cabai dapat di tanam di lahan sawah maupun lahan kering. Namun untuk dapat optimal tanaman cabai memerlukan lokasi lahan yang subur, tidak tergenang, suhu udara berkisar 25-27° C, kelembapan udara 80%, curah hujan 600-1200 mm per tahun dan ber-pH 5,5-6,8.

Selain itu dalam pemilihan lokasi agar memilih lahan yang bukan endemik virus dan bukan bekas tanaman se-family Solanacea.

Cara Menanam Cabai/Cabe

Selain faktor di atas, pemilihan waktu tanam cabai sangat penting. Ini berkaitan erat dengan ketersediaan air, curah hujan serta serangan hama penyakit, sehingga tanaman bisa tumbuh dan berbuah secara optimal.

Baca juga : 

Pada lahan kering atau tegal waktu yang tepat adalah pada awal musim kemarau yaitu antara bulan April-Juni, sedangkan pada lahan sawah bekas padi di tanam pada akhir musim hujan yaitu Agustus-September.

Tanaman cabai sangat rentan terhadap serangan OPT, dimana OPT tersebut dapat menyebabkan kerusakan tanaman dan berakibat kegagalan panen.

Ada beberapa cara untuk menekan serangan OPT yaitu dengan memodifikasi sistem tanam seperti pola tumpang sari, pola tumpang gilir, menanam tanaman perangkap, menanam tanaman penghadang atau menanam di rumah kasa (screen house).

Sobat BT, modifikasi sistem tanam sebenarnya sangat menarik dan cukup signifikan dalam menekan serangan OPT.

Baca juga :

Tapi pada postingan kali ini kita akan fokus pada bagaimana cara menanam cabai/cabe-nya dulu. Secara garis besar budidaya/menanam tanaman cabai di bagi menjadi 4 proses inti yaitu persiapan tanam, tanam, tanam, perawatan dan panen.

#1. Persiapan Tanam

1.1 Pengolahan tanah

Pengolahan tanah adalah upaya untuk mengembalikan kesuburan tanah melalui perbaikan struktur tanah, pH (keasaman tanah) dan zat hara tanah.

Perbaikan struktur tanah dilakukan dengan membajak tanah dan penggaruan. Bajak bertujuan untuk membolak balik tanah sehingga tanah yang di bawah yang subur berpindah ke bagian atas.

Baca juga :

Penggaruan, atau kegiatan untuk meratakan tanah, bertujuan untuk memperbaiki aerasi tanah. Perbaikan pH tanah bisa dilakukan dengan penambahan dolomit atau kapur pertanian.

Perbaikan unsur hara dilakukan dengan cara penambahan pupuk dasaran. Pupuk dasaran yang digunakan antara lain pupuk kandang, NPK dan dolomit.

Baca juga :

Bila perlu bisa ditambahkan SP-36 atau KCl. Pupuk kandang yang digunakan dapat berasal dari kotoran ayam, kambing atau sapi.

Penggunaan dolomit disesuaikan dengan tingkat keasaman tanah atau pH, pH ideal untuk tanaman cabai yaitu 5,5-6,8.

Jika pH tidak sesuai maka berdampak pada pertumbuhan tanaman selain itu tanaman juga menjadi rentan terhadap serangan hama penyakit.

Baca juga :

Oleh karena itu sebelum dilakukan olah tanah perlu dilakukan pengecekan pH tanah tersebut.

Pupuk dasar dan Kebutuhan (kg/0,1 ha)

  • Pupuk kandang : 1,5-2,0 ton
  • Pupuk NPK : 30 kg
  • Dolomit : 300-1000 kg

Tabel kebutuhan dolomit (kapur) berdasarkan pH tanah awal

  • pH tanah awal 5,5 | kebutuhan dolomit (kg/0,1 ha) : 300 kg
  • pH tanah awal 5,0 | kebutuhan dolomit (kg/0,1 ha) : 500 kg
  • pH tanah awal 4,5 | kebutuhan dolomit (kg/0,1 ha) : 800 kg
  • pH tanah awal 4,0 | kebutuhan dolomit (kg/0,1 ha) : 1000 kg

Setelah tanah dibajak dan digaru kemudian tambahkan pupuk dasaran dan dolomit. Kemudian digacar (plotting) sesuai ukuran bedeng yang dikehendaki.

Pemberian pupuk dasaran juga bisa dilakukan setelah tanah digacar, teknik ini biasanya dilakukan jika lahan hanya dicangkul dan tidak dibajak terlebih dahulu.

Idealnya pupuk dasaran diberikan pada dasar bedengan sebelum bedengan dibuat, bukan diberikan diatas bedengan yang telah jadi.

Hal ini berkaitan dengan efektifitas penyerapan hara tanaman karena nantinya akar akan tumbuh ke bawah dan langsung dapat menyerap pupuk tersebut.

1.2 Pemasangan mulsa

Pemasangan mulsa dilakukan pada siang hari saat cuaca panas, antara jam 9-11 siang agar mudah ditarik, direnggangkan dan dipotong sesuai panjang bedengan.

Pada bagian tepinya digunakan pasak bambu untuk menguncinya sehingga mulsa tidak mudah lepas, terutama saat ada angin kencang.

Mulsa pada penanaman cabai sangat direkomendasikan karena mulsa bermanfaat dalam menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma serta menekan perkembangan hama vektor penyakit seperti trips, lalat buah, ulat grayak yang berkepompong di tanah.

Setelah itu mulsa dilubangi sesuai jarak tanam. Jarak tanam cabai pada musim kemarau yaitu 40 x 50 cm, dan pada musim hujan 50 x 60 cm.

Jarak tanaman dan lebar bedeng akan berpengaruh terhadap jumlah tanaman dalam luasan tertentu.

Jarak tanam dan lebar bedeng inilah yang digunakan sebagai acuan dalam menghitung jumlah tanaman sehingga akan diketahui berapa jumlah benih yang dibutuhkan.

Secara otomatis hal ini juga memudahkan kita dalam menghitung kebutuhan kita akan benih/bibit, lanjaran dan kebutuhan pupuk per tanaman atau per luasan tertentu.

Baca juga :

#2. Penanaman

2.1 Tanam (transplanting)

Penanaman dilakukan pada sore hari mulai jam 2-3 sore, agar tanaman tidak mati karena layu yang disebabkan suhu yang tinggi.

Dua hari sebelum tanam lahan di leb (digenangi) setinggi ½ bedeng. Selanjutnya diberi insectisida berbahan aktif karbofuran misal furadan atau wingran 1 g/tanaman 2 hari sebelum tanam.

Setelah pindah tanam, disiram air kurang lebih 250 ml/lubang tanam, pagi atau sore agar bibit bisa tumbuh dan tidak stress.

Selanjutnya disiram pagi dan sore, sementara penyulaman maksimal 3-7 hari setelah tanam. Sebelum fase penanaman terlebih dulu bibit disiapkan dengan cara menyemai benih cabai yang sudah disiapkan.

Untuk cara menyemai benih cabai sendiri bisa baca artikel berikut >> Tips Cara Sukses Menyemai Benih Cabai Sendiri.

2.2 Pemasangan lanjaran dan ikat

Lanjaran dipasang ketika tanaman sudah berumur 3-4 minggu. Lanjaran berguna untuk memperkokoh tanaman.

Batang tanaman di ikat kan ke lanjaran dengan tali rafia. selanjutnya pengikatan dilakukan mengikuti pertumbuhan tanaman.

#3. Perawatan

3.1 Pengairan pada Cabai

Pengairan dilakukan dengan cara penyiraman atau pengocoran. Pengocoran dilakukan setiap hari sejak tanam sampai tanaman cabai berumur 2-3 minggu.

Setelah itu pengocoran dilakukan dua kali seminggu disesuaikan dengan kondisi tanaman dan lingkungan. (Baca juga : 3 Jenis Cara atau Metode Irigasi Yang Sering Digunakan Petani [Menurut FAO]).

3.2 Penyiangan

Beberapa gulma atau rumput liar berperan sebagai inang dari beberapa jenis OPT. Jadi untuk menekan perkembangan OPT sedini mungkin penyiangan perlu dilakukan terhadap gulma.

Gulma seperti wedusan (Ageratum conyzoides) merupakan inang dari hama kutu kebul (Bemisia tabaci) yang merupakan vektor penyakit virus kuning gemini.

Baca juga : Bisakah Penyakit Virus pada Cabai Disembuhkan?

Selanjutnya untuk waktu yang tepat dalam melakukan penyiangan adalah sebelum dilakukan pemupukan susulan.

3.3 Pewiwilan Cabai

Pewiwilan/perempelan berarti pembuangan tunas, bunga, buah serta daun pada tanaman cabai. Pewiwilan pada tanaman cabai ada 4 jenis yaitu

  • Pewiwilan tunas samping di bawah cabang Y
  • Pewiwilan bunga pada cabang Y
  • Pewiwilan daun tua di bawah cabang Y
  • Pewiwilan cabang atau tunas tidak produktif di atas cabang Y

Lebih detil mengenai pewiwilan cabai selengkapnya anda bisa artikel berikut >> 4 Jenis Pewiwilan Pada Tanaman Cabai.

3.4 Pemupukan susulan Cabai

Pemupukan susulan diberikan dengan cara penugalan. Pengocoran efektif dilakukan pada musim kemarau dan tugal dilakukan saat musim hujan.

Susulan I

  • Umur 10-15 hst : ZA + NPK, 10 g/tan (1:5), 10 cm di samping lubang tanam

Susulan II

  • Umur 20-25 hst : NPK 20 g/tan (1 sendok makan), 20 cm dibawah lubang tanam

Susulan III

  • Umur 50-60 hst : NPK 20 g/tan (1 sendok makan), 30 cm dibawah lubang tanam

Selain dosis pupuk diatas untuk mempercepat pertumbuhan penambahan pupuk lain seperti Multi NP, Multi KP, KNO3 bisa digunakan (sesuai dengan dosis).

Baca juga :

3.5 Pengendalian Hama Penyakit Cabai

Dalam menanam cabai kita seringkali dihadapkan dengan kendala serangan dari organisme pengganggu tanaman antara lain berupa hama, penyakit dan gulma.

Hama yang biasanya menyerang cabai antara lain hama trips, kutu daun persik, ulat buah, ulat grayak, kutu kebul, tungau, lalat penggorok daun Liriomyza, dan lalat buah.

Dari beberapa hama utama cabai di atas, ada hama trips, kutu kebul, kutu daun yang juga dikenal sebagai hama vektor atau penyebar virus.

Baca juga :

Selanjutnya dalam pengendalian hama sebaiknya memperhatikan ambang batas pengendalian, ap aitu silahkan baca artikel berikut >> Mengenal Nilai Ambang Batas Pengendalian pada Tanaman Pangan dan Horti.

Selain hama, ada penyakit yang menjadi kendala juga dalam menanam cabai. Penyakit utama yang menyerang cabai ada banyak antara lain busuk daun (phytoptora), antraknosa (patek), embun tepung (powdery mildew), layu (jamur dan bakteri).

Baca juga : 

Mengenai apa saja hama penyakit utama cabai anda bisa membaca artikel ini >> Kupas Tuntas Hama Penyakit Utama Tanaman Cabai (lengkap dengan gambar).

Sementara untuk gulma walaupun tidak signifikan sebagaimana hama dan penyakit, namun tetap merugikan, kenapa? Silahkan and abaca artikel berikut >> 5 Kerugian Akibat Gulma Yang Jarang Disadari Oleh Petani.

Untuk mengendalikan gulma ternyata ada tekniknya juga loh, silahkan baca juga artikel berikut ini >> Teknik Aplikasi Herbisida Efektif dan Efisien untuk Pengendalian Gulma.

Untuk mengendalikan hama penyakit dan organisme peggangu tanaman lain, digunakan bahan yang disebut dengan pestisida. Pestisida banyak macamnya, anda bisa membaca artikel berikut >> 14 Jenis Pestisida Tanaman Berdasarkan Sasaran OPTnya.

Ada banyak cara aplikasi pestisida, namun yang biasa dilakukan ada 6 cara antara lain >> 6 Cara Aplikasi Pestisida yang Biasa Dilakukan di Lapangan.

Namun dari 6 cara aplikasi pestisida yang bisa dilakukan petani, penyemprotan menjadi cara aplikasi pestisida yang paling banyak dilakukan.

Penyemprotan pestisida bisa anda lakukan tergantung intensitas serangan hama penyakit pada cabai. Penyemprotan pestisida (mayoritasnya adalah jenis insektisida, akarisida dan fungisida) dilakukan  jika :

  • Kondisi normal (preventif) : 1-2 x seminggu
  • Banyak serangan (kuratif) : 2-4 x seminggu

Penyemprotan dalam kondisi normal merupakan pengendalian OPT secara preventif atau pencegahan, sedangkan jika banyak serangan dilakukan secara kuratif yaitu jika populasi hama atau intensitas serangannya telah mencapai ambang batas pengendalian.

Ambang batas pengendalian adalah tingkat populasi atau tingkat serangan hama yang harus dikendalikan agar tidak menimbulkan kerugian atau kegagalan panen.

Untuk tingkat serangan yang berat gunakan variasi bahan aktif pestisida saat penyemprotan agar lebih efektif juga menghindari resistensi hama penyakit.

Atau bisa juga anda mix (campur), misalnya jika terjadi serangan trips yang parah, bahan aktif imidakloprid di campur dengan piridaben, bergantian dengan emamektin atau abamektin.

Untuk cara mix pestisida anda bis abaca artikel ini >> 3 Prinsip dalam Mencampur (Mix) Pestisida yang Tepat.

Jika anda tidak tahu, masih bingung atau bahkan khawatir salah dalam mencampur, anda bisa gunakan pestisida bahan aktif ganda yang sudah ada di pasaran.

Silahkan anda baca artikel daftar bahan aktif ganda berikut ini >> Daftar Pestisida Berbahan Aktif Ganda untuk Pengendalian Hama Penyakit Tanaman.

#4. Panen

Panen cabai dilakukan pada saat tanaman cabai berumur 70-75 hari setelah tanam jika di dataran rendah dan telah berumur 85-90 hari setelah tanam jika di dataran tinggi.

Buah cabai yang dipanen adalah yang telah matang penuh yaitu yang telah merah sempurna. Kemudian dalam panen cabai hendaknya diperhatikan hal-hal berikut;

  1. Panen dilakukan saat cuaca cerah agar sisa-sisa embun yang menempel pada buah sudah menguap sehingga dipastikan bebas dari penyakit.
  2. Dalam memetik buah cabai agar dilakukan secara hati-hati agar ranting tidak patah.
  3. Pengangkutan cabai jarak jauh sebaiknya menggunakan wadah plastik hal ini menghindari buah cabai patah atau memar sehingga akan menurunkan kualitasnya.

Nah, bagaimana sobat BT, cukup mudah bukan menanam cabai/cabe? Dengan membaca artikel ini saya harap semoga anda bisa faham dan bisa mulai praktek langsung.

Anda bisa mulai praktek menanam cabai dengan lahan yang tidak luas terlebih dahulu sebagai tahap awal belajar, misal menanam di depan rumah, di polybag di pekarangan, atau di petak sawah yang tidak luas.

Jika anda sudah memahami karakter tanaman cabai ini, barulah anda bisa mencoba menanam cabai dengan luasan yang lebih besar.

Saya doakan harga panen bisa mahal agar anda bisa membeli tanah dan sawah yang lebih luas, jika harganya lagi turun anda bisa baca artikel ini :

Jika kondisi musim hujan coba baca artikel berikut >> Tips Sukses Menanam Cabai di Musim Hujan dan ini >> Resiko Tinggi Menanam di Musim Hujan ? Coba Perhatikan 5 Hal Ini.

Untuk meminimalisir kegagalan akibat serangan hama penyakit atau kondisi lingkungan esktrim sebaiknya anda gunakan varietas-varietas cabai unggul.

Varietas cabai unggul yakni varietas cabai yang selain produktivitasnya tinggi namun ia juga lebih toleran atau tahan terhadap hama penyakit dan virus.

Rekomendasinya banyak, silahkan anda baca varietas-varietas cabai unggul/hibrida berikut :

Penutup

Akhirnya sampai di sini dulu bahasan kita kali ini tentang cara menanam cabai/cabe khususnya untuk pemula. Oiya terakhir, sebagai penutup keberhasilan tanam cabai sangat ditentukan oleh tingkat keseriusan petani, mengingat begitu banyak kendala yang dihadapi petani cabai.

Cara Menanam Cabai/Cabe

Tingkat keseriusan petani dibuktikan dengan kondisi tanaman cabai yang baik, berbuah lebat dan bebas hama penyakit. Jadi petani cabai yang panen berarti dia tidak sekedar tanam, namun sungguh-sungguh dalam merawat tanaman cabainya dan seringkali mengecek/mengamati kondisi tanaman cabainya.

Baca juga : 

Jika dirasa artikel panjang ini bermanfaat, mohon kiranya berkenan untuk share artikel ini agar banyak dari saudara, sahabat atau teman anda yang lain yang jadi tahu.

Sekian, terimakasih dan salam hangat dari kami, BelajarTani.com^^^

Bagikan Artikel Ini Ya Boskuh ! Trims.
10 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *