6 Cara Pengendalian Hama Terpadu : Atasi Hama Tanpa Pestisida Kimia Demi Terwujudnya Pertanian Berkelanjutan

Pengendalian hama terpadu – Hama merupakan salah satu komponen yang berpengaruh nyata terhadap produktivitas tanaman, diantaranya penurunan hasil dan bahkan gagal panen.

Oleh sebab itu, hama perlu dikendalikan agar tanaman tidak mengurangi kerusakan dan tidak mengalami gagal panen.

Nah, salah satu cara mengendalikan hama tanaman adalah dengan PHT atau pengendalian hama terpadu (Integrated pest management). Apa itu pengendalian hama terpadu ?

Mungkin di antara anda sering mendengar istilah ini tapi mungkin belum paham sepenuhnya apa yang dimaksud dengan pengendalian hama terpadu. Yuk mari kita bahas.

Tanaman refugia untuk menarik predator hama kutu-kutuan

Pengendalian hama terpadu merupakan salah kegiatan pada pertanian berkelanjutan. Dalam pengendalian hama terpadu, pengendalian hama dilakukan secara lebih bijak dan ramah lingkungan.

Kata kuncinya yaitu sekecil mungkin penggunaan pestisida kimia. Serta langkah pencegahan lebih diutamakan daripada pengendalian (kondisi sudah terserang).

Mengapa pengendalian hama terpadu dinilai sangat penting untuk mendukung pertanian yang berkelanjutan (suistainable agriculture) ?

Hal ini disebabkan penggunaan pestisida kimia secara terus menerus terbukti menyebabkan kerusakan lingkungan yang serius seperti :

  • Kerusakan sumber daya lahan dan air
  • Terjadinya resistensi hama
  • Residu pestisida terbawa pada hasil panen dan ditemukan dalam darah konsumen
  • Residu pestisida menyebabkan berkurangnya makro dan mikrorganisme tanah dan air
Rekomendasi :  Tips dan Cara Mencegah serta Mengatasi Penyakit Trotol Bawang Merah

Untuk mencegah kerusakan sumber daya lahan dan air itulah diperlukan kombinasi cara pengendalian yang ramah terhadap lingkungan. Yuk kita Simak ulasannya.

Cara pengendalian hama terpadu

#1. Menggunakan musuh alami

Contoh yang paling mudah yaitu penggunaan burung hantu atau ular sawah untuk mengendalikan atau mengurangi populasi hama tikus sawah.

Kumbang koksi dan semut api predator aphids

Lalu bagaimana dengan hama kutu-kutuan pada tanaman hortikultura? Banyak yang bertanya bagaimana cara menggunakan metode musuh alami untuk mengendalikan kutu-kutuan?

Secara alami munculnya hama dan predator alaminya di lahan memang agak susah, terlebih jika masih menggunakan pestisida kimia. Predator berupa kumbang misalnya itu biasanya sulit ditemukan.

Cara untuk mengkondisikan keduanya agar bisa bertemu adalah dengan penggunaan tanaman refugia seperti kenikir, bunga matahari, bunga kertas yang dengan pesonanya bisa menarik predator kutu-kutuan datang.

#2. Menggunakan perangkap hama

Perangkap hama merupakan cara pengendalian yang cukup efektif dalam mencegah perkembangan hama. Selain sebagai indikator keberadaan hama di lahan.

Perangkap hama yang digunakan biasanya berupa yellow trap untuk hama kutu-kutuan pada tanaman cabai, tomat, bawang merah.

Rekomendasi :  Tip Trik dan Cara Mempertebal Daun agar Lebih Tahan dari Serangan Pernyakit

Sementara pada tanaman padi ada yang namanya light trap untuk menjebak hama wereng, ngengat penggerek batang padi dan kepinding tanah.

Selain itu, bisa juga menggunakan perangkap atraktan petrogenol yang berguna untuk menjebak lalat buah jantan sehingga tidak bisa membuahi lalat buah betina.

#3. Penggunaan insektisida nabati/organik

ilustrasi penyemprotan insektisida nabati

Insektisida nabati adalah insektisidda yang berasal dari tanaman yang mengandung senyawa organik tertentu yang mampu menghambat dan membunuh hama dengan beberapa cara yaitu mengusir, mengurangi nafsu makan, merusak telur/larva, serta proses reproduksinya.

Mengenai insektisida nabati anda bisa membaca artikel berikut >> 5 Jenis Insektisida Nabati Yang Direkomendasikan Di Amerika Serikat.

#4. Menggunakan insektisida hayati (bioinsektisida)

Agen hayati adalah mikroorganisme yang bisa digunakan sebagai insektisida/fungisida. Contohnya jamur Beauveria bassiana yang biasanya digunakan untuk mengendalikan hama ulat grayak, kutu kebul, penggulung daun, penggerek ubi jalar (Cylas), penggerek polong, penggerek batang kopi, penggerek batang jagung, kepik hijau dan lain-lain.

Penggunaan Beauveria untuk pengendalian kepik hijau menurut banyak penelitian direkomendasikan pada fase telur dan nimfa awal. Aplikasi saat fase telur menyebabkan sebagian besar telur gagal menetas.

#5. Melakukan rotasi tanaman

Rotasi tanaman diartikan sebagai strategi menanam beberapa jenis tanaman dalam suatu lahan secara bergiliran/bergantian.

Rekomendasi :  Cara Pengendalian Penyakit Blas pada Padi

Biasanya jenis tanaman yang dipilih selalu berbeda familinya. Misalnya pada sebuah lahan sawah di musim tanam 1 tanam padi, musim tanam 2 tanam hortikultura dan musim tanam 3 tanam jagung.

Bukan tanpa tujuan mengapa menanam jenis tanaman berbeda. Tujuan utamanya adalah untuk memutus siklus hama. Dengan ganti tanaman, hama tanaman lama tidak bisa menyerang tanaman baru yang bukan inangnya.

Sementara jika tidak dilakukan rotasi, maka hama pada tanaman lama akan terus ada pada tanaman berikutnya dan bukan tidak mungkin populasi hama tersebut semakin berkembang.

#6. Melakukan olah tanah yang benar

Dari semua cara dalam pengendalian hama terpadu, olah tanah yang benar tergolong masuk kategori cara preventif atau pencegahan.

Sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya tanaman, tanah atau lahan musti dipastikan bebas dari hama yang berpotensi menyerang perakaran tanaman.

Ada banyak hama dalam tanah yang jika menyerang menyebabkan tanaman layu dan mati antara lain hama uret, ulat tanah, orong-orong serta nematoda.

Mengenai hama penyakit yang menyerang dari dalam tanah anda bisa membaca artikel berikut ini >> Hama Penyakit Tanaman (HPT) Yang Menyerang Dari Dalam Tanah.

Share, jika konten ini bermanfaat !

Artikel Terkait

About the Author: Insan Cita

Insan Cita, founder & owner BelajarTani.com - Alumnus FP - Bekerja di agriculture corp - Hobi ngeblog & berkebun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *