8 Penyakit Abiotik pada Tanaman Cabai (Abiotic Disease)

8 Penyakit Abiotik pada Tanaman Cabai (Abiotic Disease) – Halo sobat BT, penyakit tanaman pada umumnya dibedakan menjadi 2 jenis yakni penyakit biotik dan penyakit abiotik. Begitu juga pada tanaman cabai juga terdapat penyakit karena faktor biotik dan faktor abiotik.

Penyakit biotik adalah penyakit karena serangan organisme hidup seperti jamur, bakteri, nematoda maupun virus. Sementara penyakit abiotik adalah penyakit yang BUKAN disebabkan oleh organisme hidup, misalnya karena kekurangan nutrisi atau cekaman lingkungan.

Mengutip dari buku Pepper & Eggplant Disease Guide, yang diterbitkan Seminis tahun 2006, berikut ini 8 penyakit abiotik pada tanaman cabai.

1 Blossom End Root atau Busuk Ujung buah

Penyakit busuk ujung buah disebabkan oleh ketidakseimbangan kalsium dalam buah. Gejala dari penyakit blossom ini, biasanya pada ujung buah nampak seperti basah kuyup (watersoaked).

Selanjutnya area tersebut akan berkembang menjadi area yang bewarna coklat dan kasar. Seringkali pada wilayah yang mengering tadi diserang oleh jamur sehingga terkadang warnanya berubah menjadi abu-abu bahkan hitam.

Cara pengendalian blossom yang bisa dilakukan antara lain memberikan pupuk kalsium nitrat (hindari penggunaan pupuk amonium) pada tanaman yang mengalami gejala, dan pastikan tanaman mendapatkan suplai air fertigasi secara merata.

2 Chemical Damage atau Kerusakan Kimia

Disebabkan oleh keracunan insektisida ataupun herbisida. Gejala kerusakan tanaman akibat bahan kimia levelnya berbeda-beda, tergantung pada dosis dan fase pertumbuhan tanaman.

Gejala yang timbul antara lain  :

  • Gejala ringan berupa klorosis yaitu warna daun berubah dari hijau jadi kuning atau putih,
  • Gejala gejala berat/akut berupa nekrotis yaitu daun mati dan mengering (seperti terbakar).

Gejala keracunan akibat insektisida biasanya daun mengalami mottling atau bintik-bintik kuning sekaligus nekrosis atau daun mati mengering pada bagian tepi.

Sementara keracunan akibat herbisida kontak antara lain timbul klorosis ataupun nekrosis bintik-bintik pada daun, batang ataupun buah.

Beda lagi jika disebabkan herbisida sistemik, daun hijau akan berubah menjadi kuning (klorosis) pada seluruh bagian daun (bukan bintik-bintik sebagaimana herbisida kontak).

Cara menghindari kerusakan akibat pestisida kimia yaitu gunakan inekstisida atau herbisida sesuai dengan dosis pemakaian, gunakan pada waktu/cuaca dan dosis yang tepat.

3 Chimera

Chimera disebabkan oleh perubahan genetik pada tanaman (mutasi gen), sehingga tanaman yang mengalami chimera akan muncul gejala berubah bentuk daun/buah serta warnanya (menjadi putih atau disebut klorosis).

Dengan gejala tersebut (klorosis), banyak yang bingung mengira bahwa gejala tersebut mungkin disebabkan oleh keracunan herbisida ataupun akibat virus.

Untuk pencegahannya yakni sebaiknya menggunakan benih yang berkualitas dan telah tersertifikasi oleh lembaga/dinas terkait.

4 Cracking atau Retak/Pecah

Retak buah, pada hakikatnya terjadi karena adanya pembelahan sel epidermis pada buah. Retak buah disebabkan oleh faktor lingkungan dan faktor genetik.

Pada jenis cabai Jalapeno misalnya, retak buah dikenal sebagai ciri khas cabai tersebut, jadi tidak masalah. Akan jadi masalah jika retak buah terjadi pada jenis cabai lain yang dituntut agar panen mulus seperti paprika atau cabai besar.

Selain faktor genetik, ada beberapa faktor lingkungan yang jadi faktor penyebab retak buah, antara lain hujan lebat dimana ketersediaan air berlebih, sehingga tanaman menyerap air berlebih pula.

Sebenarnya walau tidak hujan, namun jika kelembapan udara di malam hari tinggi, maka itupun bisa membuat buah retak.

Selain itu adanya perubahan suhu yang cukup besar antara siang dan malam hari juga berpotensi terjadinya retak buah.

Terakhir, penggunaan pupuk yang tidak berimbang, misalnya N nya lebih dominan saat masa pembesaran buah, diduga kuat menjadi penyebab buah jadi retak bahkan pecah.

Solusinya adalah manajemen irigasi dan nutrisi yang tepat. Jangan sampai tanaman kelebihan air dan nitrogen saat fase pembesaran buah.

5 Nutrient Disorders atau Penyakit Karena Masalah Nutrisi

Penyakit akibat masalah nutrisi dibagi jadi 2 yaitu penyakit karena kekurangan nutrisi dan penyakit karena kelebihan nutrisi.

Sama seperti pada manusia, kekurangan nutrisi menyebabkan tubuh jadi stunting, busung lapar, rentan penyakit, hingga kematian.

Sementara jika kelebihan nutrisi/makanan, manusia cenderung akan mengalami obesitas, dan juga rentan terhadap segala macam jenis penyakit.

Kekurangan unsur hara umumnya terjadi pada tanah asam/basa karena unsur hara menjadi immobile (tidak bergerak).

Selain itu temperatur rendah, pemadatan tanah atau kelembapan tanah yang berlebihan juga bisa mempengaruhi ketersediaan hara.

Mengenai kekurangan nutrisi/hara atau defisiensi ini pernah kita bahas di artikel yang telah lalu, anda bisa baca artikel berikut >> Cara Mudah Mengukur Kekurangan Unsur Hara (Plant Deficiency Guide) dari Daun Tanaman.

Serangan penyakit pada bagian akar oleh hama yang berasal dari dalam tanah, bisa membuat kerusakan akar tanaman, akibatnya tanaman kekurangan unsur hara sebab serapan haranya berkurang.

Baca juga Hama Penyakit Tanaman (HPT) Yang Menyerang Dari Dalam Tanah

Sementara gejala kelebihan unsur hara disebabkan penggunaan pupuk berlebihan atau tidak tepat dan berimbang.

Baca jugaMengapa Pemupukan Harus Tepat dan Berimbang? Ini Dia Jawabannya

Untuk mengatasi masalah penyakit karena masalah nutrisi ada beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu :

  • Melakukan kontrol/cek ph tanah
  • Lakukan penambahan kapur pada tanah yang ph rendah (tanah asam ph < 7)
  • Atau sebaliknya tambahkan pupuk pembentuk asam (contoh amonium atau sulfur) ke tanah basa (ph > 7)

6 Salt Toxicity atau Keracunan Garam

Gejala keracunan garam pada cabai yaitu daun cabai mengalami krolosis dan efek terbakar di tepi daun. Jika keracunannya parah maka daun akan kering, layu, mengering mati lalu rontok.

Selain pada daun, karena cabai sensitif keracunan garam, gejala juga nampak pada akar. Gejalanya ujung akar jadi pendek dan mengalami nekrotis (mati).

Sekilas gejala tersebut nampak seperti akibat kekeringan ataupun karena keracunan pupuk (terbakar oleh pupuk).

Untuk mencegah terjadinya keracunan garam, lakukan uji kandungan garam baik di tanah maupun pada air irigasi.

Cegah penumpukan garam dengan menggunakan jenis, jumlah, penempatan/cara aplikasi pupuk dan sistem irigasi yang benar.

Dan satu lagi yang perlu diingat, bahwa kekeringan dan laju evapotranspirasi (penguapan) yang tinggi juga ikut mendukung perkembangan toksisitas garam.

7 Sunscald atau Lepuh Karena Sinar Matahari

Sunscald merupakan area putih tipis berkembang pada buah. Seringkali area bewarna putih tersebut berubah menjadi hitam jika terkena kolonisasi jamur.

Secara gejala sunscald hampir mirip dengan blossom end root, hanya saja gejala ini muncul karena paparan sinar matahari berlebih.

Seringkali sunscald terjadi pada buah yang sudah matang dibanding pada buah yang masih belum matang. Biasanya buah cabai terkena sunscald jika suhu internal buah lebih dari 35 derajat celsius.

Sunscald pada cabai atau paprika biasanya terjadi setelah kegiatan pemangkasan. Untuk mencegah sunscald sebaiknya menjaga suhu internal buah tidak lebih dari 35 derajat celsius.

8 Environmental Stresses atau Tekanan Lingkungan

Tanaman cabai mengalami stress pada saat suhu dan kelembaban udara ekstrem. Saat suhu rendah 10 -15 derajat celsius, tanaman cabai bisa mengalami stunting (kerdil).

Sebaliknya saat suhu udara tinggi tanaman cabai juga bisa kerdil bahkan layu. Jika suhu tinggi terus-menerus terjadi saat fase pembungaan, maka bunga bisa rontok. Sementara jika terjadi pada saat buah sedang masak, buah bisa saja mengalami sunscald.

Kelembapan tanah yang berlebihan sampai saat ini menjadi masalah utama bagi lahan dengan sistem drainase yang buruk, terutama jika tanah tersebut memiliki kandungan lempung/liat tinggi.

Dampaknya adalah rusaknya zona perakaran. Akar yang rusak menyebabkan serapan hara berkurang, daun jadi klorosis, pertumbuhan tanaman terhambat dan terkadang tanaman jadi layu dan mati.

Baca juga : Mengenal 2 jenis Gejala Serangan Penyakit Pada Tanaman

Oke sobat BT, itulah 8 penyakit abiotik yang biasa menyerang pada tanaman cabai, sebagai akibat dari tekanan lingkungan, faktor genetik tanaman itu sendiri, maupun karena keracunan pestisida.

Dari ke 8 jenis penyakit abiotik cabai di atas, penyakit mana yang pernah tanaman cabai anda alami ? Yuk sharing di kolom komentar. Terimakasih^^

#Disclaimer : all the pictures above are taken from this book >> Pepper & Eggplant Disease Guide, Seminis, 2006.

Jangan Lupa Share Ya !

5 Comments

  1. Mauliyani says:

    thanks for sharing

  2. nama obat nya apa min?

    1. Insan Cita says:

      obat untuk apa paK?

      1. Darmansyah says:

        jadi seperti gosong tpi blum waktu nya tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *