Traktor Tanpa Awak Berbasis IoT : Kelebihan dan Kekurangannya

Traktor Tanpa Awak – Era revolusi industri 4.0 merupakan era dimana teknologi IoT (Internet of Thing) mendominasi gaya hidup generasi milenial.

Saat ini hampir semua sektor perlahan beralih kearah digitalisasi. Pertanian di era 4.0 adalah konsep pertanian cerdas yang berbasis penerapan IoT (Internet of Thing).

Konsep pertanian berbasis IoT ini mengarah kepada pertanian berkelanjutan dengan optimalisasi produktifitas pertanian dan efisiensi terhadap tenaga kerja.

Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas beberapa hal yang berkaitan dengan penerapan IoT (Internet of Thing) pada bidang pertanian seperti :

Sekilas Kondisi Pertanian Indonesia

Seperti yang kita tahu, di Indonesia sebagian besar petani produktif berkisar di usia 40 tahun ke atas. Di satu sisi, minat generasi muda untuk terjun ke bidang pertanian juga semakin menurun.

Dengan kata lain ke depan sumber daya manusia pertanian akan semakin berkurang dan semakin sulit didapatkan. Padahal pertumbuhan penduduk terjadi secara eksponensial, sehingga berpengaruh pada penyediaan pangan.

Pertanian sebagai salah satu sektor utama penggerak ekonomi Indonesia dituntut untuk dapat terus memenuhi kebutuhan pangan nasional, sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan para petani.

Nah, dalam menjawab tantangan utama tersebut, sektor pertanian Indonesia perlahan mulai bertransisi menuju Pertanian 4.0 dengan memaksimalkan kecanggihan teknologi dalam kegiatan usaha tani.

Upaya Pemerintah di era pertanian 4.0

Traktor tanpa awak/driverless tractor/autonomus tractor berbasis IoT di Amerika Serikat. Sumber: cnbc.com

Pemerintah melalui Kementan terus berupaya mempersiapkan mesin-mesin pertanian canggih untuk memudahkan petani dalam melakukan usaha tani-nya.

Mesin-mesin yang telah dipersiapkan diantarnya adalah mesin penanam padi, drone penebar benih, combine harvester (mesin pemanen padi) dan autonomous tractor atau driverless tractor (traktor tanpa awak).

Saat ini teknologi autonomous tak  hanya pada teknologi industri saja namun, juga merambah pada sektor pertanian. Teknologi autonomous merupakan teknologi yang dikendalikan otomatis melalui PC ataupun smartphone.

Dengan teknologi ini memungkinkan mengendalikan suatu alat dari jarak jauh tanpa perlu mengemudikan atau mengontrol secara langsung.

Era revolusi industri 4.0 dalam bidang pertanian dapat kita lihat dengan adanya mesin-mesin canggih yang berbasis IoT (Internet of Thing), Artificial Intelligence, Human-Machine Interface, teknologi robotic dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

Keseluruhan teknologi yang ada tersebut mentransformasi cara manusia berinteraksi juga diarahkan kepada efisiensi tenaga kerja manusia dan daya saing industri.

Revolusi industri 4.0 dalam bidang pertanian, tak hanya menjawab tantangan kebutuhan pangan yang kian meningkat dengan menawarkan segala kemudahan yang membantu tenaga manusia.

Tapi sekaligus menjawab masalah rendahnya regenerasi petani muda di Indonesia yang mayoritas petani produktif kita didominasi oleh tenaga kerja usia 40 tahun keatas.

Kementan saat ini tengah menggenjot inovasi teknologi pertanian yang berbasis IoT (Internet of Thing) untuk meningkatkan produktivitas pertanian baik itu dari segi kuantitas ataupun kualitas.

Traktor tanpa awak hasil pengembangan Kementan

Traktor tanpa awak roda empat Kementan. Sumber: Kementan (dikutip dari tabloidsinartani.com

Salah satu teknologi yang tengah dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) adalah Autonomous Tractor atau traktor tanpa awak.

Inovasi ini dikembangkan oleh Balitbang sejak 2015 dan saat ini telah dioperasikan di beberapa daerah seperti yang ada di Bali.

Traktor Autonom adalah traktor tanpa awak yang dilengkapi dengan empat roda dan berfungsi mengolah lahan yang menggunakan kendali otomatis sesuai peta perencanaan dengan akurasi 5 – 25 cm. Traktor ini dapat dikendalikan dengan jarak hingga 5 km.

Pengembangan (Autonomous Tractor) dilakukan dengan gobal positioning system (GPS) berbasis sistem navigasi real time kinematika (RTK) serta base rover yang modular.

Sensor navigasi berfungsi untuk mengetahui posisi traktor utuk selanjutnya melakukan langkah kerja yang diperintahkan. Pembacaan posisi dilakukan oleh GPS-DRTK receiver yang disambungkan secara wireless kepada personal computer (PC).

Sistem control pada traktor ini terdiri atas pengendalian stir, gas, gear, rem, dan kopling. Sedangkan pada pengolahan lahan digunakan pengendalian implemen dan power take off (PTO) pada traktor.

Implemen bajak menggunakan tiga titik gandeng sehingga arah gerak bajak searah dengan arah gerak traktor. Autonomous Tractor juga memiliki sensor yang akan otomatis berhenti ketika terdeteksi manusia yang melintas didepannya.

Selain itu traktor juga memiliki sistem komunikasi antara traktor dan base station dengan jaringan wireless 2.4 atau 5Ghz.

Proses kerja traktor dalam mengolah tanah diawali dengan pemetaan koordinat lahan dengan menggunakan GPS setelah rute selesai disetel maka traktor akan berjalan sesuai rute dengan membaca sensor navigasi untuk mengetahui posisi dan tindakan yang selanjutnya dilakukan.

Data-data informasi dari sensor kemudian dikirim kekomputer, sehingga untuk selanjutnya komputer (dalam genggaman tangan) melakukan kendali dari PC untuk mengendalikan pergerakan mekanisme unit stir, gas, gear, rem, dan kopling.

Gerakan traktor dalam mengolah tanah terdiri atas dua bagian yaitu gerakan maju pada lintasan lurus dan gerakan berbelok untuk berpindah jalur kerja berikutnya.

Pengolahan tanah dengan membajak tanah merupakan bagian dari gerak lurus traktor. Lebar kerja pada autonomous tractor ini adalah 1,6 meter dengan kecepatan rata-rata adalah2,5 km/jam sehingga memiliki kapasitas kerja 2jam/ha traktor ini lebih efisien dibanding traktor manual.

Kelebihan dan Kekurangan Traktor Tanpa Awak

Traktor tanpa awak berbasis IoT karya Kementan RI. Sumber: antaranews.com

Pengolahan tanah dengan menggunakan autonomous tractor memiliki keunggulan lebih efisien tenaga kerja, dimana dengan menggunakan autonomous tractor operator hanya perlu mengontrol lewat PC tanpa perlu membutuhkan banyak tenaga.

Penggunaan teknologi IoT (Internet of Thing) khususnya pada bidang pertanian ini dianggap sesuai dengan pola hidup generasi milenial yang tak pernah luput dari dunia digital.

Kekurangan dari autonomous tractor saat ini masih belum bisa dipergunakan dilahan sawah dengan medan yang keras.

Tentu saja saat ini teknologi autonomous tractor buatan Indonesia musti terus dikembangkan sehingga kedepannya ini dapat dipergunakan di semua medan tanam tanpa mengalami kendala apapun.

Kontributor :  Listia Dia Fadila (Mahasiswi Pertanian Universitas Jember/UNEJ)

Editor : BelajarTani.com

Bagikan Artikel Ini Bosque ! Trims.

About the Author: Insan Cita

Insan Cita, sebuah nama pena dari founder, owner sekaligus admin BelajarTani.com. Alumnus Fakultas Pertanian. Bekerja di perusahaan pertanian, mengelola farm produksi. Gardening, Farming & Hiking !

Leave a Reply

Your email address will not be published.