BelajarTani.com Pupuk Sama-sama Pupuk Non Kimia, Inilah Perbedaan Pupuk Organik dan Pupuk Hayati

Sama-sama Pupuk Non Kimia, Inilah Perbedaan Pupuk Organik dan Pupuk Hayati

Sama-sama Pupuk Non Kimia, Inilah Perbedaan Pupuk Organik dan Pupuk Hayati – Hallo sobat BT, bahasan kita kali ini adalah tentang perbedaan pupuk non kimia yang telah banyak beredar di pasaran yaitu pupuk organik dan pupuk hayati.

Pada postingan jauh sebelumnya pernah kita bahas mengenai perbedaan pupuk organik dan anorganik (kimia), berikut keunggulan dan kelemahan masing-masing. Berikut link nya >> Apa Sih Perbedaan Pupuk Organik dan Anorganik? Simak Kelebihan dan Kelemahannya Disini.

Nah, kali ini kita bahas 2 pupuk yakni pupuk organik dan hayati, sama-sama pupuk non kimia, tentang pengertian dan perbedaan keduanya, dimana masih banyak orang mengira pupuk organik dan pupuk hayati itu sama. Padahal keduanya itu sesuatu yang berbeda.

Namun meskipun berbeda, keduanya memiliki korelasi atau hubungan yang sangat erat. Seperti apa itu? Nanti kita bahas ya sobat BT. Sekarang kita bahas perbedaan pupuk organik dan pupuk hayati dulu.

#1. Pupuk Organik

Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik, dekomposisi dari tanaman atau hewan.

Contoh pupuk organik antara lain pupuk kandang (kotoran sapi, kambing, ayam), pupuk kompos, pupuk kotoran kelelawar atau guano, pupuk kascing (bekas cacing) dan lain-lain.

pupuk non kimia
Contoh pupuk non kimia pupuk organik, yaitu pupuk kandang dari kotoran ayam

Baca juga : 3 Jenis Pupuk Organik yang Sering Digunakan Oleh Petani

Pupuk organik bentuknya umumnya berupa padatan, namun ada juga yang berbentuk cair, yang dikenal dengan pupuk organik cair (POC).

Baca jugaMudahnya Membuat Pupuk Kalium Organik Cair

POC bisa berasal dari hasil ekstraksi atau frementasi tumbuhan atau urine dari hewan ternak (umumnya urine sapi, kambing atau kelinci).

#2. Pupuk Hayati

Pupuk hayati, menurut laman balittanah adalah nama kolektif untuk semua kelompok mikroorganisme/mikroba tanah (bakteri, cendawan, mikoriza) sebagai penyedia hara dalam tanah

Sebenarnya penggunaan kata “pupuk” pada “pupuk hayati” itu kurang tepat, karena dalam sebuah kemasan pupuk hayati sama sekali tidak akan ditemukan kandungan unsur hara makro seperti N, P dan K.

Yang ada justru jutaan bahkan milyaran mikroorganisme yang bermanfaat bagi pertumbuhan untuk tanaman disebabkan oleh peran dari mikroorganisme tersebut.

Peran dari mikroba tersebut bermacam-macam, ada yang spesifik (khusus), ada juga yang general atau umum.

  • Mikroba penambat nitrogen (N) : Azospirilium, Azotobacter, Rhizobium
  • Mikroba pelarut fosfat (P) : Penicillium, Bacillus
  • Mikroba pelarut kalium (K) : pelarut fosfat biasanya juga pelarut kalium
  • Mikroba penambat N, pelarut P, dan penghasil ZPT : Azotobacter

Jadi dapat kita simpulkan bahwa peran mikroba itu ibarat pabrik yang memproduksi makanan. Bahkan tak hanya itu ada juga mikroba yang berperan sebagai “tentara” pelindung tanaman atau dikenal dengan agen hayati.

Yang termasuk jenis agen hayati (jadi sebagai pestisida hayati) antara lain Bauveria bassiana, Metharizium anisopliae dan Trichoderma.

Baca juga : Atasi Akar Gada Dengan Trichoderma , Begini Caranya….!

pupuk non kimia
Cara kerja pupuk non kimia pupuk hayati-agen hayati (biofertilizer-biopesticide)-PGPR. Image source: microbewiki.kenyon.edu

Mikroorganisme/mikroba selain sebagai pabrik makanan dan agen hayati, dia juga mampu merangsang sistem perakaran, atau dikenal dengan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobateria) yang dapat memperpanjang umur akar sehingga tanaman jadi lebih resisten terhadap hama penyakit.

Itulah sebabnya penggunaan pupuk hayati (biofertilizer) atau agen hayati (biopesticide) sangat menguntungkan petani. Penggunaan pupuk hayati terbukti dapat mengatrol/meningkatkan produktivitas berbagai komoditas pertanian.

Selain dapat meningkatkan produktivitas, penggunaan mikroba juga bisa mengurangi penggunaan pupuk anorganik/kimia dan pestisida kimia hingga 50%. Selain itu, ia juga aman bagi kesehatan konsumen, dan aman bagi lingkungan.

Baca juga : 12 Cara Mengurangi Penggunaan Pestisida Kimia

Penggunaanya pun termasuk irit, biasanya 1 liter pupuk hayati bisa digunakan untuk 200 liter air, bisa diteteskan via drip tape (irigasi tetes) ataupun di cor-kan pada media tanam.

Untuk merk dari pupuk hayati atau biofertilizer sangat beragam sekali yang sudah beredar di pasaran. Harganya berapa? Harga pupuk hayati juga beragam sekali.

Hubungan pupuk organik dan pupuk hayati

Sebagai produk yang sama-sama non-kimia, maka ada hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan mikroba, baik itu untuk pupuk hayati (biofertilizer) ataupun sebagai agen hayati (biopesticide).

#a. Sebagai pupuk hayati/biofertilizer

Penggunaan mikroba sebagai pupuk hayati musti diimbangi dengan ketersediaan bahan organik dalam tanah (misal pupuk kandang, kompos dan lain-lain). Kenapa demikian? Jika tidak maka mikroba-mikroba tadi tidak dapat bertahan hidup alias mati.

Walaupun anda sudah pakai pupuk hayati bukan berarti tidak bisa pakai pupuk kimia. Penggunaan pupuk kimia sesuai dengan anjuran tidak berpengaruh buruk pada mikroba.

#b. Sebagai agen hayati/biopesticide

Nah, jika anda sudah memakai pupuk hayati/mikroba di lahan anda, maka sebaiknya anda juga menggunakan bio-pestisida untuk pengendalian HPT, misalnya dengan Trichoderma.

Kalaupun terpaksa anda pakai pestisida kimia, maka jangan sampai terjadi kontak langsung. Jangan sampai anda menyemprot pestisida kimia pada tempat yang sama saat anda semprot biopestisida.

Baca juga : 3 Cara Aplikasi Agens Hayati Trichoderma Sp pada Tanaman Cabai

Sekalipun itu pestisidanya berbahan aktif mikroba (misal Bakteri Thuiringiensis), juga dapat membunuh mikroba agen hayati.

Kesimpulan

Penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati, merupakan salah satu cara penerapan sistem pertanian organik.

Walaupun memang pupuk aatau pestisida organik atau nabati kinerjanya tidak sebaik/secepat pupuk kimia, namun itu sudah sanggup mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Terlebih akhir-akhir ini sulit sekali mendapatkan pupuk kimia khususnya lagi yang subsidi. Di lain sisi, banyak bermunculan pupuk-pupuk palsu yang mirip pupuk asli dan berhasil mengelabui banyak petani.

Penggunaan pupuk non kimia yakni pupuk organik dan pupuk hayati dalam jangka panjang oleh petani adalah kabar yang sangat baik bagi dunia pertanian.

Bagaimana menurut anda sobat BT ?

11 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 Comment

  1. Benarkah penggunaan Agen Hayati semisal Trichoderma SP tdk boleh menggunakan fungisida kimia yg diaplikasikan ke tanah?? Atau apakah Trichoderma SP akan mati jika terkena fungisida kimia??
    Trims jawabannya.

    1. disarankan untuk bergantian saja pak….diselang waktu 3 jam gitu…berdasarkan pengalaman dan info jurnal,,, kalo dicampur bisa mati sih…kalo lebih dari 3 jam kebanyakan efektivitas pestisida sudah menurun sehingga akhirnya jadi tidak berbahaya…kemudian disarankan juga tidak menyemprot pada bgian yang sama, misal di bagian akar.. biar tidak ada kontak langsung. kecuali itu tadi waktunya sudah agak lama..residu pestisida tadi justru bisa diurai oleh agen hayati..begitu menurut saya..