Penyebab Harga komoditas Pertanian (Khususnya Sayur) Anjlok Akhir-Akhir Ini

Penyebab Harga komoditas Pertanian (Khususnya Sayur) Anjlok Akhir-Akhir Ini – Hallo sobat BT, beberapa hari yang lalu sempat viral video petani yang membuang panen nya ke jalan atau sungai. Bahkan ada juga yang menginjak-injak panen mereka saat masih di lahan.

Banyak yang bertanya apa sih yang sebenarnya terjadi? Alasan petani membuang hasil panen sayur mereka karena harganya yang anjlok dan murah. Sehingga jika pun dipanen, maka hasil panennya pun tak sebanding dengan biaya panen (bayar tenaga kerja) yang dikeluarkan.

Situasi petani saat ini memang kurang mengenakkan bagi petani. Di saat harga melambung tinggi (sebab pupuk langka), sementara panen harga jatuh.

Sungguh sesuatu yang miris sekali. Apalagi hal itu semua terjadi di bulan Agustus (tahun 2020) dimana bangsa Indonesia ini sedang memperingati hari kemerdekaan.

Petani buang panen sayur ke sungai karena harga anjlok jatuh murah bangets (Desember 2019). Image source: antarafoto.com

Sehingga jadi banyak yang bertanya-tanya, termasuk saya sendiri, benarkah kita sudah benar-benar merdeka? Kalau ternyata kemerdekaan itu tak membuat sebagian besar rakyat (khususnya petani), tak bisa sejahtera ya sama saja.

Baca juga : Apalah Arti Kemerdekaan Bagi Petani, Jika…

Hati rasanya teriris melihat sayur-sayur itu dibuang atau diinjak. Jika memang tidak berkenan kenapa tidak disedekahkan ke orang lain yang barangkali membutuhkan.

Ya, mungkin saja itu bentuk protes dari para petani yang sudah susah-susah payah namun saat panen justru harganya anjlok. Seandainya harga sayur bisa stabil tentu saya yakin para petani tidak akan pernah melakukan itu.

Baca juga4 Hal yang Perlu Dilakukan Petani Cabai Saat Harga Cabai Jatuh

Nah sobat BT, masih banyak yang bertanya-tanya (di group-group facebook komunitas petani) kenapa harga sayur bisa separah ini, benarkah akibat Covid19 permintaan sayur menurun drastis? Bukankah sayur adalah kebutuhan utama masyarakat rumah tangga ?

Untuk menjawab ini, perlu dijawab dengan pendekatan ekonomi yaitu menurunnya harga sebagai akibat dari penawaran atau pasokan barang yang melimpah, dan menurunnya permintaan tentunya.

Sekarang pertanyaannya adalah mengapa pasokan sayur bisa melimpah di pasaran? Ada dua kemungkinan (pake kemungkinan karena kita tidak punya data angka pastinya nya), pertama kondisi yang pertama produksi sayur tetap seperti tahun sebelumnya. Dan yang kedua, produksi sayur justru meningkat.

1. Produksi sayur hampir stabil (naik atau turun sedikit)

Meskipun produksi sayur pada musim atau bulan sama dengan tahun sebelumnya, namun permintaannya lah yang menurun.

Yang paling terasa adalah dari sektor perhotelan dan restoran. Dengan semakin turunnya omset perhotelan dan restoran, banyak yang akhirnya untuk memutuskan berhenti beroperasi untuk sementara waktu hingga pandemi selesai.

Sementara dari sisi permintaan rumah tangga sepertinya masih stabil dan tidak menurun karena kebutuhan sayur seperti cabai dan bumbu-bumbu masak merupakan kebutuhan sayur pokok rumah tangga.

Hanya saja, kalau dulu-dulunya kebutuhan tersebut dipenuhi dari membeli di pasar, tapi saat ini mungkin kebutuhan tersebut sudah dapat dipenuhi dengan kegiatan urban farming yang mereka lakukan. Dan kebetulan panennya bersamaan dengan panen raya sayur dari area sentral sayur.

Jadi, jatuhnya harga sayur akhir-akhir ini dipengaruhi oleh permintaan perhotelan, restoran dan rumah tangga mengalami penurunan, meskipun kita asumsikan produksinya tidak mengalami peningkatan yang signifikan.

2. Produksi sayur meningkat

Kita asumsikan produksi sayur stabil atau tetap saja, harga sayur anjlok apalagi kita asumsikan produksi sayur akhir-akhir ini meningkat.

Mengapa bisa kita asumsikan anjlok atau jatuhnya harga sayur karena produksi sayur meningkat berkali-lipat? Ada dua kemungkinan, pertama yaitu luasan penanaman area sayuran di seluruh sentra sayur mungkin saja bertambah. Selain itu penanamannya pun dilakukan serentak atau bersamaan.

Kedua, di musim kemarau yang cenderung berawan mendung (sesekali hujan deras), ini menyebabkan udara jauh lebih sejuk dan adem. Kondisi inilah yang sangat disukai tanaman hortikultura. Meskipun cuaca terasa panas, namun disertai angin sepoi-sepoi yang membuat udara jauh lebih sejuk dan nyaman.

Nah, sebagaimana halnya manusia yang senang dengan cuaca sejuk, begitu juga dengan tanaman. Tanaman terbebas dari stress akibat cekaman cuaca ekstrim. Oleh karena itu produktivitas tanaman jauh lebih meningkat.

Dan satu lagi yang jauh lebih penting, populasi hama utama tanaman seperti trips dan kutu kebul, tidak separah musim kemarau sebelumnya. Ini juga faktor penting yang mencegah tanaman dari kerusakan akibat serangan hama.

Kesimpulannya adalah produksi meningkat bisa jadi karena yang tanam juga bertambah, tanamnya juga serentak (bersamaan) dan sebagian besar berhasil sampai fase panen.

Nah, bagaimana menurut anda sobat BT ???

Jangan Lupa Share Ya !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *