Mengenal Beragam Jenis Sistem Tanam Pertanian

Jenis Sistem Tanam Pertanian – Apa itu sistem tanam? Sistem tanam berasal gabungan dua kata yaitu sistem dan tanam. Saat saya mencoba mencari arti kata sistem tanam di KBBI saya tidak menemukanya. Yang ada hanya arti masing-masing dari frasa tersebut, yaitu sistem dan tanam, itu sendiri.

Menurut KBBI, sistem berarti perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan atau berarti juga metode. Sementara kata tanam atau menanam berarti menaruh bibit atau benih di dalam tanah supaya tumbuh.

Sehingga sistem tanam itu bisa berarti metode tanam, yang artinya cara bagaimana menanam bibit atau benih yang tentu saja agar nanti dapat menghasilkan panen.

Banyak juga yang menyebut sistem tanam itu dengan pola tanam. Itu juga benar. Karena kalau kita cek arti kata “pola” di KBBI disitu ada sistem atau cara kerja.

Sehingga kita akan dapat banyak persamaan dari sistem tanam antara lain metode atau cara tanam, dan pola tanam.

Dalam bidang pertanian, ada beragam jenis sistem tanam yang sudah banyak diterapkan di berbagai belahan dunia. Yuk, kita bahas satu persatu sob.

Sistem Tanam Tunggal (Mono Cropping) atau Monokultur

Sistem tanam tunggal pada jagung

Sistem tanam monokutur adalah penanaman satu jenis tanaman pada suatu luasan lahan tertentu, dan pada musim tertentu. Misal pada lahan 1 hektar hanya ditanami padi saja atau jagung saja. Selain tanaman musiman berupa pangan dan horti, pada tanaman tahunan seperti sengon atau karet.

Sistem Tanam Ganda (Multiple Cropping) atau Polikultur

Sistem tanam ganda adalah sistem penanaman dengan mengusahakan, membudidayakan atau menanam dua jenis atau lebih tanaman budidaya pada suatu luasan lahan tertentu dan pada musim tertentu.

Tujuan dan alasan banyak petani melakukan tanam ganda adalah

  1. Untuk menigkatkan produktivitas lahan, misal di lahan yang sama ditanam jagung dan kedelai sekaligus (sesama tanaman pangan), atau bawang merah dengan kubis (sesame horti). Dengan menignkatkanya produktivitas lahan berarti peningkatan pendapatan petani.
  2. Menjaga kesuburan tanah, hal ini jika salah satu tanaman adalah dari jenis legum. Seperti kedelai, kacang hijau atau kacang tanah. Seperti yang kita ketahui tanaman tersebut dapat membantu penyediaan dan serapan unsur nitrogen dalam tanah.
  3. Menurunkan resiko gagal panen. Dengan menanam 2 jenis tanaman yang berbeda famili, misal antara jenis terong-terongan dengan kubis-kubisan, bisa mencegah kegagalan panen akibat hama yang sama. Misal saat terjadi ledakan hama kutu-kutuan pada cabai, hama kubis atau selada misalnya cenderung aman. Selain itu juga mengatisipasi kerugian akibat fluktuasi harga, misal saat panen harga salah satu tanaman anjlok, maka kerugian masih bisa tertutupi oleh panen dari tanaman yang lain.

Berdasarkan waktu tanamnya, sistem tanam ganda di lapangan dibagi lagi menjadi 2 jenis yaitu sistem tanam tumpang sari dan tumpang gilir.

1. Sistem Tanam Tumpang Sari (Inter Cropping)

Sistem tanam tumpang sari antara bawang daun dengan lettuce

Sistem tanam tumpangsari adalah menanam 2 jenis tanaman berbeda, secara serentak dengan membentuk barisan bedengan secara berseling antar jenis tanaman pada suatu luasan lahan tertentu.

Dalam penerapannya di lapangan ada 2 jenis, yaitu, dalam satu barisan bedengan terdiri dari 2 atau lebih jenis tanaman, misal tomat dan cabai. Ada juga yang dalam satu barisan bedengan terdiri dari satu jenis tanaman saja, misal hanya ada kubis, dan di bedengan lain ada tomat atau cabai.

Baca juga : Tips dan Cara Tumpangsari Cabai dan Tomat, Strategi Cegah Resiko Kegagalan Usahatani

Walaupun umumnya penanaman dilakukan serentak, ada juga yang tidak. Sebab persiapan bibit kedua jenis tanaman bisa saja mengalami kendala sehingga tidak siap bersamaan.

Namun hal tersebut tidak masalah selama tidak lebih dari 1 bulan setelah tanam tanaman pertama. Kalo lebih dari itu khawatir tanaman kedua bisa tertutupi oleh daun tanaman pertama sehingga tidak dapat akses sinar matahari.

Itu jika dalam satu bedengan ada 2 jenis tanaman, jika dalam satu bedegan 1 jenis, tentu lebih tak massalah lagi.

Gambaran di atas adalah untuk tumpang sari pada tanaman horti yang menggunakan sistem bedengan dan got yang lebar dalam pengelolaan lahannya.

Sementara jika pada tumpang sari jagung kedelai, alangkah baiknya jika pada 1 atau 2 barisan tanaman jagung, tanaman kedelainya terdapat 4-5 barisan. Agar kedelai mendapatkan akses air, udara dan sinar matahari yang cukup.

2. Sistem Tanam Tumpang Gilir (Relay Cropping)

Sistem tanam tumpang gilir antara sawi putih dengan tomat

Sistem tanam tumpang gilir adalah bercocok tanam selama semusim atau lebih yang terdiri atas beberapa jenis tanaman yang ditanam secara bergiliran dan bersisipan untuk meningkatkan produktivitas tanah tiap satuan luas dan waktu;

Jadi bedanya dengan tumpangsari adalah masalah waktu saja. Jadi di sistem tanam tumpang gilir petani terlebih dulu menanam satu tanaman tertentu, baru kemudian menanam tanaman kedua, ketiga, di sela-sela ruang kosong, pada saat tanaman pertama masuk fase awal panen hingga menjelang panen habis.

Contohnya gini, saat tanaman tomat sudah memasuki panen terakhir, dilakukan penanaman cabai atau jagung. Jadi nanti saat tanaman tomat sudah habis/bongkar, tanaman cabai atau jagung sudah besar.

Selanjutnya bisa lanjut misalnya menyisipkan tanaman sawi-sawian pada tanaman cabai yang sudah masuk umur tua dan mau habis. Begitulah seterusnya sampai dirasa kualitas panen menurun dan perlu dilakukan pengolahan tanah kembali.

Hal yang perlu diperhatikan dengan sistem tanam ganda

Meski sistem tanam ganda memiliki kelebihan seperti yang kita bahas di atas, ada hal yag perlu diperhatikan dalam menerapkan sistem tanam ganda :

  1. Pemberian nutrisi musti cukup sesuai dengan jumlah tanaman, terutama saat pemberian pupuk dasaran. Tentu saja bisa 2x lipat daripada sistem tanam tunggal.
  2. Karena dalam satu waktu, perlu diperhatikan jenis tanamannya, sebaiknya jangan yang satu famili, misal cabai dengan terong. Karena kedua jenis tanaman di atas memiliki jenis hama penyakit utama yang hampir sama, sehingga jika terjadi serangan keduanya bisa rusak bersamaan. Namun jika tujuannya hanya sekedar antisipasi harga panen, maka hal tersebut tak jadi masalah.

Sistem Tanam Jajar Legowo

Sistem tanam jajar legowo adalah cara menanam padi dengan mengatur jarak antar barisan tanaman padi serta memberi baris pemisah sehingga tanaman padi mendapatkan efek tanaman pinggir seperti mendapatkan sinar matahari secara merata.

Ada beberapa jenis jajar legowo yang biasa digunakan petani yaitu jajar legowo 2:1, jajar legowo 3:1, dan jajar legowo 4:1. Namun jajar legowo 2:1 lah yang dianggap yang paling baik. Mengapa ?

Pada sistem tanam jajar legowo misal jajar legowo 2:1 jarak tanam yang digunakan 25×12,5 cm dan baris pemisah selebar 40-50 cm antara satu baris tanaman dengan tanaman lain.

Jarak pemisah tadi berguna untuk mencegah terbentuknya iklim mikro (kelembapan dan suhu berada pada kondisi yang optimal).

Selain dapat mencegah terjadinya iklim mikro (menurunkan serangan OPT), intensitas cahaya/sinar matahari yang masuk juga lebih merata sehingga pertumbuhan padi juga lebih optimal.

Karena ada baris pemisah berupa baris kosong tadi, perawatan tanaman jadi lebih mudah. Baik saat anda hendak melakukan pemupukan, penyiangan, atau penyemprotan, bisa dilakukan di area baris kosong.

Sistem Tanam SRI

Sistem atau metode tanam SRI pertama kali dikenalkan oleh Henri De Laulanie di Madagaskar tahun 1980. Sistem tanam SRI adalah singkatan dari System Rice of Intensification, jadi bukan nama orang atau nama gelar ya.

Jadi apa itu sistem tanam SRI ? Coba lihat di singkatannya, ada kata kunci intensifikasi. Sistem tanam SRI merupakan sebuah Teknik untuk meningkatkan produktivitas padi dengan mengoptimalkan input produksi seperti benih, air, nutrisi dan lain-lain.

Pada sistem tanam SRI benih padi yang digunakan harus benih unggul atau hibrida, dan penanaman bibit dilakukan sebatang sehingga biaya benih lebih hemat.

Bibit padi ditanam masih muda umur 8-15 hari setelah semai dengan tujuan agar dihasilkan lebih banyak anakan atau batang padi, dan dari batang padi tadi akan lebih banyak dihasilkan banyak bulir padi.

Jika pada sistem tradisional jumlah anakan kurang dari 20, sementara dengan SRI bisa menghasilkan 30-40 anakan.

Sementara untuk air, pengairan dilakukan secara macak-macak (bukan digenangi seperti sistem tanam padi umumnya). karena tanaman padi sejatinya bukanlah tanaman iar yang harus selalu tergenangi.

Untuk input produksi pupuk, dalam konsep SRI digunakan pupuk organik dan hayati, begitu pun pestisidanya. Dari input yang aman tadi maka outputnya adalah padi organik yang aman bagi kesehatan manusia, dan lingkungan karena tidak meninggalkan residu berbahaya.

Selain prinsip yang penting di atas, ada yang menjadi ciri khas dari sistem tanam SRI yaitu menggunakan jarak tanam lebar.

Jika biasanya sistem tanam padi tradisonal pake jarak 25×25 cm, di SRI ada beragam macam varian jarak tanam. Antara lain mulai dari 30×30 cm, 40×40 cm, serta 50×50 cm. Namun berdasarkan hasil riset jarak tanam 50×50 cm menghasilkan panen yang lebih banyak.

Sistem Tanam Mina Padi

Sistem tanam mina padi adalah sistem tanam padi dilakukan bersamaan dengan pemeliharaan ikan di lokasi lahan atau sawah yang sama. Sistem mina padi sebenarnya hampir sama dengan sistem tanam tumpang sari pada komoditas hortikultura.

Pada mina padi, biasanya ikan dipelihara di kolam di sekeliling tanaman padi. Ikan yang dipilih sebaiknya yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

Sistem tanam mina padi mempunyai banyak kelebihan karena bisa meningkatkan pendapatan petani, tidak hanya dari panen padi tapi juga dari ikan.

Selain meningkatkan pendapatan, mina padi juga bisa menurunkan biaya karena penggunaan pupuk kimia jadi berkurang karena kotoran ikan bisa jadi pupuk organik bagi ikan.

Dan untuk sistem mina padi ini kita cukup berbangga karena pertanian Indonesia mendapatkan pengakuan dari dunia international yaitu dari FAO bahwa Indonesia adalah negara tersukses dalam program mina padi se-Asia Pasifik.

Sistem Tanam Tabela

Tabela adalah singkatan tanam benih langsung. Artinya benih padi ditanam tanpa dilakukan persemaian atau pemindahan bibit seperti pada umumnya. Biasanya jenis padi yang digunakan adalah jenis Padi Gogo.

Sebelum benih ditanam biasanya benih direndam dulu sekitar 24 jam, ditiriskan selama 12 jam, dan setelah muncul akar baru benih ditanam.

Sistem Tanam Tapin

Tapin adalah singkatan tanam pindah. ini kebalikan dari tabela. Pada sistem tanam tapin, benih padi terlebih dahulu di rendam, kemudian di peram dalam kondisi lembab, kemudian baru ditabur di bedengan semai.

Setelah berumur 3 minggu setelah semai, benih baru bisa pindah tanam ke lahan atau sawah yang sudah siapkan sebelumnya.

Sistem Tanam Hidroponik

Sistem tanam hidroponik adalah cara tanam tanpa menggunakan tanah. Hidroponik berasal dari kata hidros berarti air, dan ponos berarti daya.

Jadi hidroponik adalah cara tanam tanpa media tanah sebagai tempat nutrisi bagi akar tanaman, sebagai tempat menopang akar tanaman untuk tetap tumbuh tegak.

Sebagai gantinya adalah nutrisi tadi diberikan sekaligus bersamaan dengan pemberian air. Makanya di hidroponik dikenal sistem fertigation atau fertigasi, yang berasal dari kata fertilizer dan irrigation, pupuk sekaligus pengairan.

Ada banyak turunan dari sistem tanam hidroponik seperti Aeroponic, Aquaponic, Bubbleponics,Water Culture (sistem kultur air), hidroponik sumbu, hidroponik drip, NFT, DFT, EBB and Flow(sistem pasang surut) dan lain-lain.

Ada banyak jenis media yang digunakan dalam budidaya hidroponik yang tentunya selain tanah antara lain sabut kelapa, hidrotone, plastic film imec, arang sekam, serbuk gergaji, batu apung, rockwool, spons dan lain-lain.

Sistem Tanam Paksa

Sistem tanam paksa atau Cultuurstelsel adalah sistem tanam yang diberlakukan semasa pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1830-1870, dimana rakyat Indonesia yang memiliki tanah diharuskan menanam seperlima tanahnya dengan tanaman ekspor (seperti kopi, teh, tebu, nila), sementara yang tidak memiliki tanah diharuskan kerja paksa (rodi) selama 60 hari dalam setahun.

Mengapa ada sistem tanam paksa? Sistem tanam paksa adalah cara kerajaan Belanda untuk membayar hutang ke kreditur dan mengisi kas negara yang kosong akibat Perang Jawa/Perang Diponegoro tahun 1825-1830, yang menghabiskan biaya 25 Juta Gulden.

Dengan sistem ini, pemerintah kolonial Belanda di bawah Gubernur Jendral van Den Bosch itu menjadi kaya raya dalam sekejap. Dari banyak sumber pemerintah kolonial Belanda akan membeli harga panen rakyat 1/10 harga pasaran dunia.

Setidaknya ada sekitar 967 Juta Gulden uang yang mengalir dari negara Indonesia yang rakyatnya banyak menderita, kelaparan dan mati, ke Negeri Belanda.

Maka jangan heran, jika negeri Belanda yang luasnya kecil itu rakyat dan negaranya maju dan makmur. Maka tak heran juga jika akhirnya Van Den Bosh mendapatkan gelar bangsawan graaf dari Kerajaan Belanda atas jasanya dalam menjalankan program tanam paksa.

Bagikan Artikel Ini Bosque ! Trims.

About the Author: Insan Cita

Insan Cita, sebuah nama pena dari founder, owner sekaligus admin BelajarTani.com. Alumnus Fakultas Pertanian. Bekerja di perusahaan pertanian, mengelola farm produksi. Gardening, Farming & Hiking !

Leave a Reply

Your email address will not be published.