Inilah Alasan Pentingnya Diversifikasi Pangan Di Saat Produksi Beras Menurun, Konsumsi Meningkat dan Harga Meroket !

Diversifikasi Pangan РPangan merupakan salah satu kebutuhan pokok atau primer masyarakat yang tidak bisa ditunda. Oleh karena itu, pasokan pangan untuk masyarakat harus senantiasa tersedia dan bisa dijangkau oleh semua kalangan baik masyarakat ekonomi kelas bawah maupun ekonomi kelas atas.

Tersedia atau tidaknya pangan dalam suatu negara utamanya makanan pokok menjadi indikasi apakah ketahanan pangan nasional suatu negara tersebut baik atau tidak, aman atau rentan.

Sayangnya makanan pokok paling populer di Indonesia yaitu beras, produksinya belum bisa naik di saat konsumsinya meningkat dan harganya kian meroket.

Berkaca pada tahun lalu, dimana kebutuhan beras Indonesia selama setahun hampir mencapai 34 juta ton, sementara produksi dalam negeri hanya mampu sebesar 30,90 juta ton. Sisanya dipenuhi dari impor.

Rekomendasi :  31 Fakta Edamame Jember, Makanan Favorit Orang Jepang

Maka sangat penting dilakukan diversifikasi pangan. Apa sih diversifikasi pangan itu ? Mengapa begitu penting dilakukan oleh negara seperti Indonesia, yuk kita simak ulasan berikut sobat belajartani.com.

Tujuan diversifikasi pangan

Ilustrasi gambar diversifikasi pangan. Created by : firefly

Berada pada posisi bergantung hanya pada satu pilihan memang sangatlah tidak menguntungkan. Termasuk bergantung pada salah satu jenis pangan tertentu, beras misalnya.

Program diversifikasi pangan bertujuan untuk mengurangi ketergantungan negara pada beras. Oleh karena itu, bahan pangan pokok pengganti nasi seperti yang kita bahas di artikel sebelumnya harus senantiasa dikembangkan dan disosialisasikan kepada masyarakat luas.

Jika program diversifikasi pangan berhasil maka permintaan akan beras menurun, sehingga akan mengurangi angka impor.

Berdasarkan data pemerintah pada tahun 2017 konsumsi beras Indonesia adalah sebesar 114,6 kg per kapita per tahun. Sementara rata-rata konsumsi beras penduduk dunia yaitu sebesar 60 kg per kapita per tahun (dikutip dari Tanaman Pangan Fungsional Kaya Antioksidan, Balitbangtan 2020).

Jika dibandingkan dengan beberapa negara konsumsi beras Indonesia masih jauh lebih tinggi, misalnya Jepang yang hanya 50 kg per kapita per tahun, Korea 40 per kapita per tahun, Thailand 70 per kapita per tahun, Malaysia 80 per kapita per tahun.

Rekomendasi :  Inilah Alasan Mengapa Sistem Tanam Jajar Legowo Bisa Tingkatkan Panen Lebih Banyak

Menurunnya konsumsi pangan lokal

Ilustrasi sumber karbohidrat pengganti nasi. Created by ; firefly

Program diversifikasi pangan selain bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras, juga bertujuan untuk meningkatkan konsumsi pada bahan pangan lokal pengganti nasi/beras.

Seperti diketahui saat ini telah terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat dari pangan lokal ke beras. Termasuk pada masyarakat yang dulunya tidak mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok seperti masyarakat Maluku atau Papua.

Padahal bahan pangan lokal cukup mudah dibudidayakan. Tidak memerlukan lahan dengan syarat khusus sebagaimana menanam padi.

Selain itu kandungan karbohidrat pada makanan pokok lokal juga tidak kalah dibandingkan dengan beras.

Oleh sebab itu, penting sekali mendorong masyarakat agar kembali mengkonsumsi berbagai jenis makanan pokok pengganti nasi.

Agar program diversifikasi pangan tersebut berjalan dengan baik, maka diperlukan dukungan pemerintah berupa tersedianya pangan pengganti nasi (non beras) dengan harga yang lebih murah sehingga terjangkau bagi masyarakat kecil.

Share, jika konten ini bermanfaat !

Artikel Terkait

About the Author: Insan Cita

Insan Cita, founder & owner BelajarTani.com - Alumnus FP - Bekerja di agriculture corp - Hobi ngeblog & berkebun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *