BelajarTani.com Pestisida Ini nih Buat yang Masih Bingung Sama Cara Kerja Pestisida

Ini nih Buat yang Masih Bingung Sama Cara Kerja Pestisida

Cara Kerja Pestisida – Pestisida atau obat-obatan tanaman, utamanya pestisida kimia bagi kebanyakan petani adalah barang utama yang wajib ada dalam usahatani.

Gada obat yang jos, maka siap-siap gagal panen. Makanya jauh-jauh hari amunisi disiapkan. Obat apapun yang manjur untuk hama target pun diborong.

Jika tidak ada merk A, ganti merk B, kalo perlu beli semuanya. Tak ada yang murah, yang mahal sekalipun tak masalah, asal uang di dompet pun tersedia. Hehe

Kadang meski tak punya uang, gak apa-apa nego buat bayar di belakang. Setelah panen nanti bayarnya. Begitulah kira-kira kondisi yang ada pada petani Indonesia kebanyakan.

Mungkin di seluruh dunia juga begitu. Tentu saja itu hal yang wajar, karena petani tak mau ambil resiko jangan sampai tanaman merana dan rusak di tengah jalan.

Bahkan saat aplikasi petani tak akan ragu mengoplos berbagai jenis, menambah dosis (bahkan bisa 2x lipat dosis anjuran), serta menambah frekuensi penyemprotan agar tanaman selamat.

Sayangnya perilaku petani tersebut bisa menimbulkan masalah baru yaitu munculnya resistensi OPT (Organisme Pengganggu Tanaman). Sehingga mau tak mau petani akan terbiasa menggunakan dosis yang semakin tinggi untuk mengatasi jenis hama yang sama.

Pestisida yang beragam jenis dan merk nya itu mempunyai kandungan bahan aktif dan cara kerja yang berbeda-beda. Mengenai apa itu bahan aktif sudah pernah kita ulas pada artikel sebelumnya yaitu >> Apa Itu Bahan Aktif Pestisida?.

Sementara cara kerja pestisida adalah bagian yang sangat penting dan harus diketahui oleh petani, yang notabene-nya banyak bersinggungan dengan barang tersebut.

Manfaat Mengetahui Cara Kerja Pestisida

  • Menghindari penggunaan kelompok pestisida yang sama secara terus menerus

Caranya adalah dengan melakukan rolling atau pergiliran pestisida. Strategi pergiliran pestisida akan berjalan sukses manakala petani memahami cara kerja masing-masing pestisida. Hal ini bertujuan agar tidak menimbulkan resistensi OPT pada jenis bahan aktif tertentu (pada dosis tertentu).

Setidaknya selama siklus hidup hama (2-3 minggu) digunakan 1 jenis bahan aktif, jika tidak mampu sebaiknya segera ganti/putar/gilir (rolling) dengan bahan aktif yang lain agar generasi selanjutnya tidak mengalami kekebalan.

Baca juga : Pentingnya Strategi Pergiliran Insektisida Untuk Cegah Resistensi Hama

  • Menghindari pencampuran bahan aktif pestisida dari kelompok atau golongan yang sama

Pencampuran pestisida banyak dilakukan oleh petani dengan alasan biar lebih hemat waktu tenaga dan efektif membunuh OPT sasaran.

Maka dari itu banyak muncul paket produk pestisida untuk mengatasi berbagai jenis hama utama seperti paket anti wereng, paket anti keriting yang merupakan kombinasi beberapa jenis pestisida (bahan aktif).

Baca jugaDaftar Pestisida Berbahan Aktif Ganda untuk Pengendalian Hama Penyakit Tanaman

Dalam pencampuran pestisida wajib memperhatikan cara kerja, agar pencampuran bisa berhasil sesuai tujuan awal yaitu menimbulkan multiple attack (serangan ganda), karena jika tidak maka bisa jadi akan menurunkan daya bunuhnya.

Baca juga : 3 Prinsip dalam Mencampur (Mix) Pestisida yang Tepat

Pembagian Pestisida Berdasarkan Cara Kerja-nya

Cara kerja pestisida (mode of action) merupakan kemampuan pestisida dalam mematikan OPT sasaran (hama penyakit gulma), berdasarkan cara masuk ke jasad OPT dan berdasarkan sifat/karakter bahan aktifnya.

Secara umum ada 2 jenis pestisida yang banyak digunakan di tingkat petani, berdasarkan cara kerjanya pestisida di tingkat petani secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu :

1. Pestisida Kontak

Cara Kerja Pestisida
pestisida kontak cocok untuk hama yang bergerombol dan tidak melakukan pergerakan

Dari namanya saja jelas, bahwa pestisida ini bekerja secara kontak, bisa memberikan efek jika partikel atau droplet mengenai tubuh OPT sasaran. Jadi, penyemprotan pestisida kontak tidak akan berefek apa-apa jika tidak mengenai langsung tubuh OPT sasaran.

Berdasarkan cara kerja dan sifat bahan kimianya pestisida kontak khususnya insektisida, akan sangat efektif jika digunakan untuk hama yang pergerakannya lambat, bergerombol dan mudah terjangkau paparan butiran pestisida (droplets) seperti ulat, atau kutu daun (aphids).

Contoh pestisida kontak

Insektisida kontak

  • Kelompok Karbamat (contoh b.a Karbosulfan)
  • Kelompok Organofosfat (contoh b.a Triazofos dan Profenofos)
  • Kelompok Piretroid (contoh b. Betasiflutrin, Deltametrin, Sipermetrin)

Fungisida kontak

  • Kelompok Dithiokarbamat (contoh b.a Mankozeb, Maneb, Propineb)
  • Kelompok Anorganik (contoh b.a Tembaga Hidroksida)
  • Kelompok Kloronitril (contoh b.a Klorotalonil)

2. Pestisida Sistemik

pestisida sistemik cocok untuk hama yang mudah bergerak/terbang

Jika pestisida kontak akan dapat membunuh hama jika ada interaksi langsung antara partikel dengan OPT sasaran, maka sebaliknya pada pestisida sistemik.

Pada pestisida sistemik, contohnya insektisida sistemik tidak dapat membunuh OPT sasaran berupa hama secara langsung, namun secara perlahan tapi pasti.

Partikel pestisida yang disemprotkan ke tanaman akan masuk ke jaringan tanaman melalui daun, batang atau akar. Dan baru beberapa saat kemudian, saat OPT memakan salah satu bagian tersebut maka OPT akan mati karena masih mangandung residu pestisida yang masih aktif.

Berdasarkan cara kerjanya, maka pestisida sistemik bisa digunakan pada :

  1. OPT berupa hama yang menyerang di dalam jaringan seperti hama penggerek batang padi, penggerek daun
  2. OPT dengan mobilitas yang tinggi seperti belalang atau lalat buah
  3. OPT yang suka bersembunyi di ujung daun, di balik daun seperti trips
  4. Atau OPT yang datang saat malam hari misal keong atau siput
  5. Serta penyakit yang menyerang jaringan perakaran, pangkal batang, atau jaringan di dalam daun seperti Antraknosa, Fusarium, Phytoptora, Peronospora (bulai).

Contoh pestisida sistemik

Insektisida sistemik

  • Kelompok Phenylpyrazol (contoh b.a Fipronil)
  • Kelompok Organofosfat (contoh b.a Asefat)
  • Kelompok Neonicotinoid (contoh b. Imidakloprid)

Fungisida sistemik

  • Kelompok Triazol (contoh b.a Difenokonazol, Tebukonazol, Propiconazole)
  • Kelompok Methoxy-acrylat (contoh b.a Azoxystrobin)
  • Kelompok Karbamat (contoh b.a Propamocarb)

Penutup

Nah sobat BT, itulah uraian tentang cara kerja pestisida, yang secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu pestisida cara kerja kontak dan sistemik.

Saat ini di pasaran sudah banyak produk pestisida yang menawarkan formulasi bahan aktif ganda yang merupakan kombinasi bahan aktif kontak dan sistemik sekaligus, misal kombinasi bahan aktif (b.a) Abamektin dengan Imidakloprid, Azoxistrobin dengan Klorotalonil.

Produk ini karena bahan aktifnya ganda, tentu harganya lebih mahal dari yang berbahan aktif tunggal. Petani yang tidak mau ribet untuk mencampur mungkin bisa memilih pestisida jenis ini.

Dari pengalaman pribadi, penggunaan pestisida bahan aktif ganda cukup efektif untuk mengendalikan beragam jenis hama atau penyakit pada waktu yang bersamaan, baik secara langsung (terkena kontak) maupun tidak langsung (tertelan).

Selain pada insektisida dan fungisida, cara kerja kontak atau sistemik juga ada pada herbisida (gulma). Herbisida kontak ini efeknya lebih cepat nampak meski tidak membunuh sampai akar-akarnya (gulma masih bisa tumbuh lagi).

Sementara herbisida sistemik lebih lambat kinerjanya (karena senyawa bahan aktif masih harus disebar ke seluruh jaringan gulma), namun efeknya gulma mati secara keseluruhan.

  • Herbisida kontak ; contoh b.a Paraquat diklorida, Glufosinat
  • Herbisida sistemik ; contoh b.a Glifosat, Sulfosat, Atrazin

Oke sobat BT, demikian penjelasan mengenai cara kerja pestisida ini semoga bisa mudah dipahami ya. Sehingga nanti anda sudah ga perlu bingung lagi saat hama penyakit tanaman datang menyerang.

Bagikan Artikel Ini Ya Boskuh ! Trims.
3 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *