Di Balik Meningkatnya Produktivitas Lahan, Inilah 5 Dampak Negatif Pertanian Modern yang Tidak Banyak Diketahui Petani

Pertanian Modern – Hallo sobat belajartani.com, salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian adalah penerapan sistem pertanian modern.

Sebelumnya pernah kita bahas mengenai apa itu sistem pertanian modern dan karakteristiknya. Berikut link artikelnya >> Apa itu Pertanian Modern ? Seberapa Modern Pertanian Kita ?.

Pada konsep pertanian modern, tujuan utamanya adalah bagaimana cara meningkatkan produktivitas secara maksimal. Sehingga penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia menjadi kunci utamanya.

Memang sih penerapan pertanian modern terbukti meningkatkan produktivitas pertanian, namun pertanian modern seringkali menimbulkan efek samping berupa kerusakan sumber daya lahan dan lingkungan.

Tentu pertanian modern yang merusak lahan dan lingkungan ini bertentangan dengan konsep pertanian berkelanjutan yang menginginkan terjaganya kualitas lahan dan lingkungan. Berikut ini 5 dampak negatif pertanian modern yang berdampak pada kerusakan lahan.

#1. Penurunan kandungan bahan organik tanah

Rekomendasi :  Wereng Coklat Menggila? Tangkap Saja Pakai Perangkap Hama Wereng Coklat Ini

Bahan organik dalam tanah akan menurun seiring pemakaian lahan secara terus-menerus tanpa istirahat.

Sisa-sisa tanaman misalnya berupa jerami dan dedaunan sebaiknya dibenamkan dalam tanah saat proses olah tanah. Tujuannya untuk mengembalikan bahan organik yang sudah habis karena diserap tanaman.

Menurunnya bahan organik dalam tanah menimbulkan beberapa dampak seperti menurunnya kesuburan tanah dan populasi organisme dalam tanah, menurunnya porositas tanah dan kadar air kapasitas lapang.

Kurangnya bahan organik terlebih karena praktek penggunaan pupuk kimia yang dominan, dalam jangka panjang menyebabkan lahan menjadi gersang dan tandus. Dan tentu saja produktivitas lahannya ikut menurun.

#2. Penipisan lapisan tanah atas atau top soil

pertanian modernPenipisan lapisan tanah atas bisa disebabkan oleh erosi akibat penggunaan mesin pertanian berat seperti traktor. Padahal lapisan olah atau lapisan atas tanah (top soil) banyak mengandung unsur hara yang berguna bagi pertumbuhan tanaman.

Penipisan lapisan tanah atas sebisa mungkin dicegah agar tanah tetap subur sehingga produktivitas jangka panjang lahan tetap terjaga.

Dan satu hal yang perlu diingat bahwa tanah yang subur adalah pondasi yang penting bagi pertanian berkelanjutan.

#3. Keracunan senyawa kimia

Lahan mengalami keracunan atau toksisitas sebagi akibat penggunaan pestisida kimia secara besar-besaran dan terus-menerus.

Rekomendasi :  Tips dan Cara Tumpangsari Cabai dan Tomat, Strategi Cegah Resiko Kegagalan Usahatani

Tidak hanya berasal dari aktivitas usahatani, kontaminasi pestisida juga bisa dari luar usahatani misalnya limbah industri B3 yang mencemari air dan lahan pertanian.

Dampaknya adalah matinya organisme tanah yang berperan dalam kesuburan tanah seperti mikroba dan cacing tanah.

#4. Penurunan pH tanah

Penurunan pH tanah atau disebut juga dengan istilah pengasaman lahan, disebabkan meningkatnya residu pupuk kimia khususnya nitrogen yang berasal dari penggunaan pupuk kimia ammonium secara berlebihan.

Untuk mengatasi masalah keasaman tanah, biasanya dilakukan tindakan penambahan kapur pertanian. Kondisi tanah yang terlalu asam berpengaruh terhadap tingkat ketersediaan unsur hara sehingga dapat menurunkan produktivitas.

Selain menghambat penyediaan hara, tanah dengan keasaman tinggi meningkatkan kelarutan logam berat seperti aluminium, yang bersifat toksik yang dampaknya adalah terhambatnya pertumbuhan tanaman.

Selain itu, tanah asam berpengaruh pada aktivitas mikroorganisme yang membantu mendekomposisi bahan organik menjadi unsur hara yang siap pakai.

#5. Meningkatnya salinitas tanah

Salinitas adalah kondisi banyak tidaknya kadar garam dalam tanah, dalam hal ini zona perakaran tanaman.

Ada beberapa alasan mengapa kandungan garam dalam tanah meningkat antara lain karena naiknya air laut dan membanjiri lahan pertanian. Selain itu bisa juga berasal dari air irigasi yang mungkin mengandung kadar garam yang tinggi.

Rekomendasi :  Inilah Teknologi Irigasi Pintar di Greenhouse Berbasis Sensor IoT Canggih

Meningkatnya kadar garam dalam tanah menyebabkan masalah penyerapan air dan unsur hara oleh tanaman. Karena itu tanaman bisa mengalami stress air atau kekeringan disebabkan terbatasnya penyerapan air.

Dampaknya terkadang menyebabkan ujung daun tanaman nampak seperti terbakar. Selain itu tingginya kadar garam dalam tanah menyebabkan organisme dalam tanah seperti cacing dan mikroba mati.

Penutup

Bentuk kerusakan di atas itu nyata sekali telah terjadi dan benar-benar akan mengancam keberlanjutan produksi pertanian apapun jenis lahan dan komoditasnya.

Sebagai buktinya coba anda lihat lahan di sekitar anda, mungkin saja dulunya di sana tanahnya subur tapi mungkin telah berubah menjadi kering dan tandus. Dan secara produktvitas atau hasil mungkin telah mengalami penurunan yang jauh.

Kesimpulannya adalah, jika sumber daya pertanian yang paling utama berupa lahan dan air tidak dikelola dengan bijak maka bisa dipastikan produktivitas lahan akan semakin menurun dari waktu ke waktu.

Jadi, menerapkan berbagai teknologi modern dalam kegiatan pertanian tidaklah menjadi masalah selama tetap memperhatikan kondisi alam dan lingkungan.

Share, jika konten ini bermanfaat !

Artikel Terkait

About the Author: Insan Cita

Insan Cita, founder & owner BelajarTani.com - Alumnus FP - Bekerja di agriculture corp - Hobi ngeblog & berkebun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *