bt
Menu

Coba Tanam Padi Metode SRI, Biar Panen Padi Meroket…!

25/10/2018 | Pangan

Belajartani.com – Haloo sobat BT, pernah mendengar istilah SRI? Bagi anda petani padi, saya rasa pernah dengar, bahkan pernah juga mencoba dengan teknik atau cara ini. Nah, Kali ini saya akan share tentang cara tanam padi metode SRI.

SRI (system rice of intensification)  adalah salah satu teknik atau cara atau metode khusus dalam budidaya atau menanam padi. Secara umum, cara menanam padi pernah saya tulis pada artikel berikut ini :

::> Panduan Lengkap Cara Menanam Padi Untuk Petani Pemula

Intensifikasi padi apapun itu namanya saat ini sangat dibutuhkan, mengingat jumlah penduduk meningkat. Imbasnya kebutuhan pangan juga meningkat.

Di sisi lain, jumlah lahan pertanian semakin berkurang, berubah menjadi rumah dan bangunan beton. Program ekstensifikasi padi pun hanya bisa dilakukan di luar jawa yang jenis tanahnya masih tidak sebaik di Jawa.

Jadi, pekerjaan besar yang saat ini harus dipecahkan adalah bagaimana meningkatkan produktivitas tanaman, agar masyarakat tidak kelaparan dan negara tidak perlu impor. Salah satunya dengan intensifikasi ini.

Apa dan bagaimana cara tanam padi metode SRI (System Rice of Intensification) ?

SRI pertama kali dikenalkan oleh Henri De Laulanie di Madagaskar tahun 1980.

SRI (system rice of intensification) adalah sebuah konsep, metode, cara, teknik untuk meningkatkan produksi padi dengan cara menanam/budidaya padi berdasarkan pada manajeman sistem perakaran yang didukung suplai hara, air, oksigen secara efektif demi terbentuknya anakan maksimal.

Penerapan metode SRI di Indonesia sendiri menurut beberapa sumber bisa meningkatkan produktivitas dari 5 ton/ha menjadi 10 ton/ha.

Namun selain bertujuan meningkatkan produksi, SRI mendukung pertanian yang berkelanjutan (suistainable agriculture). Sehingga input produksi seperti pupuk direkomendasikan menggunakan pupuk organik (baik padat maupun cair).

Prinsip dasar metode SRI

Secara umum, langkah cara menanam padi biasa/tradisional dibanding metode SRI hampir sama, namun berbeda prinsip dasarnya.

1. Penggunaan varietas benih unggul

Benih unggul dalam metode tanam SRI wajib digunakan agar produksi yang dihasilkan bisa maksimal.

2. Penanaman bibit (tranplantasi) lebih awal

Bibit padi pada metode tanam padi SRI, ditanam umur 8-15 hari setelah semai (muncul 2 daun pada batang muda). Benih disemai dalam petakan khusus untuk menjaga kelembapan tanah.

Dari bibit padi yang masih muda umurnya tersebut, akan dihasilkan lebih banyak anakan atau batang padi, dan dari batang padi tadi akan lebih banyak dihasilkan banyak bulir padi.

3. Penanaman bibit sebatang

Konsep SRI yang dikenal dengan penanaman bibit sebatang ini, memiliki kelebihan yakni benih yang digunakan lebih hemat 10 kali lipat, jika secara konvensional butuh 100kg/ha, untuk SRI cukup 7-10 kg/ha.

4. Jarak tanam lebih lebar

Sebagaimana pada komoditas horti, pada padi pun sama, jarak tanam yang lebih lebar menghasilkan produktivitas yang tinggi.

Ini karena tanaman mendapatkan ruang tumbuh yang cukup luas, unsur hara dan intensitas cahaya matahari yang cukup.

Jarak tanam yang digunakan pada metode SRI antara lain 30cm x 30cm, 40cm x 40cm, serta 50cm x 50cm. Namun berdasarkan hasil riset jarak tanam 50cm x 50cm menghasilkan panen yang lebih banyak.

5. Penggunaan pupuk organik

Dalam metode SRI, pupuk yang digunakan adalah pupuk organik. Inilah bedanya SRI dengan teknik tanam lain. Seperti yang anda tahu pemakaian pupuk organik aman bagi kesehatan dan lingkungan.

Bagi lingkungan, pupuk organik tidak menghasilkan residu berbahaya sehingga tidak merusak tanah dan ekosistem lingkungan.

Bagi kesehatan, padi organik yang dihasilkan dinilai lebih aman untuk dikonsumsi sehingga lebih diminati masyarakat meski harganya lebih mahal.

6. Pengairan yang lebih hemat air

Pada metode tanam padi tradisional kondisi sawah biasanya digenangi air. Sayangnya hal tersebut kurang baik untuk pertumbuhan karena akar kurang bisa berkembang dengan baik.

Dengan metode SRI lebih hemat air 50% dibandingkan dengan metode tanam tradisional yang biasa menggenangi tanaman padi. Air digunakan hanya untuk menjaga kelembapan tanah. Hal ini bertujuan agar suplly oksigen ke akar cukup.

Ini kembali lagi pada prinsip bahwa padi bukanlah tanaman air yang harus selalu digenangi, jadi pengairan pada padi dilakukan dengan pengairan berselang yaitu penggenangan dan pengeringan lahan secara bergantian.

Teknik pengairan pada metode SRI, yaitu :

  • Pada umur 1-14 hari setelah tanam petakan sawah diairi secara macak-macak
  • Selanjutnya lakukan pengeringan sampai air dipetak habis dengan sendirinya
  • Lakukan penggenangan lagi secara macak-macak selama 5 hari
  • Lalu ulangi kegiatan pengeringan dan penggenangan sampai masuk fase pembungaan (bunting)
  • Pada fase pembungaan, lakukan penggenangan secara macak-macak sampai 15 hari menjelang panen
  • Setelah itu lahan dikeringkan untuk proses pemasakan bulir/gabah

Keuntungan tanam padi metode SRI, berdasarkan penjelasan singkat di atas, cukup banyak keuntungan yang didapat antara lain :

  • Menghemat air
  • Tanaman lebih cepat panen
  • Hasil atau produksi lebih tinggi
  • Pemakaian pupuk kimia berkurang sehingga tidak merusak struktur tanah sawah
  • Vigor tanaman lebih kuat dan tidak mudah rebah

Nah sobat BT itulah uraian singkat artikel tentang Coba Tanam Padi Metode SRI, Biar Panen Padi Meroket. Oiya, anda punya pengalaman dengan cara tanam padi sistem SRI?

Anda bisa berbagi, misalnya terkait kendala yang dihadapi saat menerapkan metode tanam padi SRI ini.

Akhir kata, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semua. Jangan lupa bagikan ke  saudara, sahabat atau teman anda yang lain. Sekian terimakasih^^

Salam hangat 🙂

BelajarTani.com

Bagikan ke teman anda :
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares

Follow our IG

Instagram.com/PertanianKini

Arsip BelajarTani.com

Choose Language

Follow BelajarTani.com

Terimakasih telah mengunjungi BelajarTani.com, Jangan lupa like and share ya Sob..! [HL♥PISD]