5 Penyebab Ketahanan Pangan Indonesia Khususnya Beras Belum Bisa Diwujudkan

Ketahanan pangan Indonesia – Pernahkah anda bertanya-tanya, mengapa negara Indonesia yang berpredikat negara agraris tidak lagi mampu mewujudkan swasembada beras ?

Segala upaya tentu sudah dilakukan oleh pemerintah untuk mewujudkan itu. Mungkin karena banyak hambatan dan tantangan maka upaya tersebut belum membuahkan hasil.

Beberapa waktu lalu banyak headline berita bahwa India sebagai salah satu eksportir beras menyetop ekspornya ke negara lain termasuk Indonesia.

Dampaknya adalah bisa anda lihat, harga beras mengalami kenaikan. Bahkan setelah pemerintah melalukan stabilisasi harga melalui operasi pasar harga beras tak kunjung turun.

Kondisi ini tentu sangat berbahaya bagi ketahanan pangan Indonesia, karena jika harga makanan pokok naik maka banyak rumah tangga miskin yang tidak bisa membelinya.

Hal tersebut bisa berdampak pada kesehatan mereka. Jika membeli beras saja kesusahan bagaimana dengan makanan tambahan berupa protein dan vitamin juga tak bisa mereka beli.

Padahal masalah makanan pokok, sebenarnya bisa dilihat sebagai investasi jangka panjang negara untuk menghasilkan generasi yang lebih sehat dan cerdas.

Rekomendasi :  Plis Jangan Sekedar Tanam, Jika Ingin Panen Optimal

Kembali ke pertanyaan awal, apa sih penyebab ketahanan pangan Indonesia (khususnya beras) masih belum bisa diwujudkan saat ini ? Mari kita simak ulasan berikut.

1. Penurunan jumlah petani padi

Petani padi Indonesia banyak yang sudah tua

Menurunnya jumlah petani beras disebabkan beberapa hal antara lain karena usahatani beras dipandang kurang menguntungkan.

Sehingga generasi muda pun juga enggan menanam padi. Tak hanya karena harga gabah tidak sesuai, input produksi seperti pupuk harganya semakin mahal.

Padahal banyak petani yang modal awalnya dari pinjaman atau KUR, yang terkadang tidak bisa dilunasi dan membuat petani benar-benar frustasi.

Makanya tak heran, banyak petani padi yang beralih menanam komoditas lain yang dianggap menguntungkan. Menurunnya jumlah petani padi ini cukup berdampak pada penurunan produksi beras nasional.

2. Tidak ada penambahan lahan produksi

Banyak lahan sawah berubah fungsi jadi jalan tol salah satunya

Lahan produksi beras yang utama adalah lahan sawah irigasi. Bukannya luasnya bertambah yang ada justru mengalami penurunan luasan.

Lahan subur yang ada justru mengalami banyak masalah misalnya degradasi kesuburan, air dan sistem irigasi yang berdampak pada produktivitas.

Mayoritas lahan padi berupa sawah irigasi yang produktif jumlahnya semakin menurun karena berbagai hal misalnya konversi menjadi perumahan, jalan tol atau bangunan.

Upaya meningkatkan produksi beras melalui teknologi dan inovasi misalnya menanam di sawah tadah hujan, lahan rawa atau lahan kering dinilai masih kurang maksimal.

Rekomendasi :  Inilah 9 Bahan Pangan Sumber Karbohidrat Pengganti Nasi/Beras. Yang Mana Favorit Anda ?

3. Permintaan beras terus meningkat

Kebutuhan pangan khususnya makan pokok berupa beras diprediksi terus meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk Indonesia.

Ketergantungan terhadap beras sebenarnya bisa dikurangi dengan melakukan diversifikasi pangan dengan kembali mengkonsumsi pangan lokal.

Baca juga : Mengapa Lahan Pertanian Makin Sempit ?

Langkah tersebut dipercaya akan mengurangi permintaan terhadap beras dan barangkali juga membuat harga beras jauh lebih stabil.

Sayangnya untuk mewujudkan tujuan di atas agak berat mengingat generasi saat ini sudah terbiasa dengan beras sebagai makanan utama.

4. Menurunnya konsumsi pangan lokal

Di Indonesia, ada banyak jenis bahan pangan sumber karbohidrat pengganti nasi yang bisa jadi pilihan masyarakat.

Namun, saat ini sudah banyak masyarakat yang dulunya mengkonsumsi makanan pokok non beras tapi lebih suka mengkonsumsi beras.

Oleh karena itu, sebaiknya masyarakat mulai kembali mengkonsumsi pangan lokal yang cukup mudah dikembangkan di daerah manapun.

Berbeda dengan beras yang harus ditanam di lahan khusus, yang harus memiliki kecukupan air dan pupuk serta, pengendalian hama penyakit yang baik.

5. Dampak perubahan iklim

ilustrasi sawah tergenang banjir rob

Pertanian adalah sektor yang paling pertama kali terdampak oleh perubahan iklim. Iklim dan cuaca yang tidak menentu menyebabkan perubahan musim tanam, kondisi tanah, air, hama penyakit dan tanaman itu sendiri.

Rekomendasi :  Penanganan Pasca Panen Komoditi Pangan dan Hortikultura

Perubahan iklim juga menyebabkan fenomena iklim ekstrim seperti El Nino menyebabkan kekeringan sehingga sawah kekurangan air pada saat dibutuhkan.

Ada juga fenomena La Nina yang menyebabkan hujan deras yang berakibat banjir besar. Akibatnya banyak sawah yang terendam, pada akhirnya gagal panen atau tidak bisa ditanami.

Fenomena banjir rob yang disebabkan naiknya muka air laut menyebabkan lahan sawah menjadi rusak, salinitas tanah yang tinggi menyebabkan padi tidak lagi tumbuh dengan normal.

Penutup

Berdasarkan uraian di atas anda bisa menyimpulkan apakah ketahanan pangan Indonesia sudah baik atau belum.

Mungkin secara jumlah pemerintah Indonesia pada akhirnya bisa memenuhinya meskipun sisanya dari impor, namun melihat banyak daerah yang kelaparan, bisa disimpulkan ada masalah distribusi yang belum merata.

Jadi, meski pasokannya ada tapi hanya masyarakat yang memiliki uang saja yang bisa membelinya. Sementara rakyat miskin yang sudah tergantung dengan beras tidak dapat membelinya.

Menarik untuk kita tunggu gebrakan apalagi yang akan dilakukan pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan Indonesia, serta memastikan setiap warna negara tidak mengalami kelaparan.

Share, jika konten ini bermanfaat !

Artikel Terkait

About the Author: Insan Cita

Insan Cita, founder & owner BelajarTani.com - Alumnus FP - Bekerja di agriculture corp - Hobi ngeblog & berkebun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *