5 Dampak Perubahan Iklim Terhadap Sektor Pertanian

410 View

Menurut kami ada 2 penyebab utama mengapa perubahan iklim kini terjadi yaitu :

Deforestasi atau penggundulan hutan

Deforestasi disebabkan oleh banyak hal misalnya karena pembukaan untuk lahan sawit, atau adanya konsesi tambang batu bara yang luasnya mencapai puluhan ribu hektar per satu ijin konsesi.

Deforestasi hutan mengancam keanekaragaman hayati, utamanya flora dan satwa yang langka. Selain itu, hutan adalah tempat terbaik bagi resapan air hujan yang bisa dimanfaatkan kembali oleh manusia untuk kebutuhan hidupnya.

Tak hanya bagi flora dan satwa, hutan juga memberikan penghidupan bagi masyarakat setempat yang memanfaatkan pemberian alam secara bijaksana.

Namun, akibat sebagian ulah manusia jahat yang membabat habis hutan secara membabi buta, maka dampaknya dirasakan oleh sebagian besar umat manusia lain, dan bagi lingkungan itu sendiri.

Kini lihatlah saat hujan lebat, sungai-sungai meluap membanjiri pemukiman dan fasilitas umum. Hal ini karena air hujan tidak terserap oleh akar tanaman langsung menuju aliran sungai dan menghanyutkan apapun yang dilaluinya.

Menurunnya area hutan, juga turut serta meningkatkan suhu udara jadi semakin panas. Ini disebabkan tidak ada lagi yang dapat menyerap gas karbon dioksida/CO2 (salah satu jenis gas rumah kaca), juga karena efek langsung sinar matahari yang mengenai tubuh bumi.

Di masa depan, negara-negara yang tingkat deforestasinya tinggi, beresiko mengalami dampak yang cukup serius akibat perubahan iklim ini.

Efek gas rumah kaca

Di tengah krisis iklim saat ini, banyak negara yang masih tergantung dengan batubara yang menghasilkan emisi gas rumah kaca yang terbukti menaikkan suhu bumi, menaikkan muka air laut, serta menyebabkan fenomena cuaca ekstrem.

Penggunaan bahan bakar batu bara untuk PLTU berdampak banyak antara lain dari segi ekonomi, social, kesehatan dan lingkungan.

  • Secara ekonomi, petani dan nelayan di pesisir pantai yang terdapat PLTU terganggu aktivitas pertaniannya dan terancam profesinya hilang.
  • Social, terjadi penolakan dari masyarakat sehingga memicu konflik social vertikal di tengah-tengah masyarakat.
  • Kesehatan, pembakaran batu bara yang menghasilkan emisi karbon mengakibatkan polusi udara yang mengganggu pernafasan masyarakat di sekitar PLTU.
  • Lingkungan, wilayah pantai mengalami kerusakan, tanaman menjadi rusak akibat debu fly ash yang bersifat racun. Sementara ekosisem air laut rusak disebabkan adanya limbah dari PLTU ataupun dari tumpahan batubara yang jatuh dari kapal tongkang.

Selain karena PLTU, gas rumah kaca CO2 juga dihasilkan dari penggunaan bahan bakar minyak dari industry maupun transportasi.

Perlu diketahui selain Karbon Dioksida (CO2), ada gas rumah kaca lain yang dianggap berkontribusi bagi pemanasan suhu bumi yaitu gas Nitrogen Dioksida (NO2), gas Metana (CH4) dan Cloro Fluoro Carbon (CFC) atau dikenal dengan Freon.

Penutup

Alam akan selalu mencari keseimbangannya. Karena alam diciptakan oleh Tuhan dengan hukum sebab akibatnya yang kita kenal dengan hukum alam.

Jika hutan sebagai penyerap CO2 dibabat, maka dampaknya sangat mengerikan. Banjir akan terjadi dimana-mana, karena air akan mencari tempat yang lebih rendah di saat yang sama tidak ada akar tanaman yang mampu menyerapnya.

Sumber mata air di pegunungan akan kering, yang akan membuat masyarakat kekurangan air bersih untuk minum, terutama saat musim kemarau.

Sekali lagi sobat semua, perubahan iklim ini nyata adanya. Dan yang tak kalah penting adalah dampaknya bagi pertanian.

Percaya atau tidak, disadari atau tidak, saat ini kita sudah merasakan dampak perubahan iklim tersebut. Kita semua tentu berharap bahwa bencana yang lebih besar bagi umat manusia dapat dicegah mulai dari sekarang.

Bagikan Artikel Ini Bosque, Thanks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *