3 Hama Penyakit Utama Pare Ini Sering Sekali Merepotkan Petani

Hama Penyakit Utama Pare – Tanaman pare atau paria dikenal cukup mudah untuk dibudidayakan. Di Indonesia tanaman paria tumbuh optimal di dataran rendah hingga menengah.

Paria juga sangat memungkinkan dikembangkan di dataran tinggi, hanya saja umur panennya jadi lebih Panjang.

Meski tanaman pare termasuk cukup kuat ditanam di segala musim, namun perlu diperhatikan adanya potensi serangan hama penyakit, khususnya hama penyakit utama nya.

Apa saja itu hama penyakit utama pare yang sering merepotkan petani ? Selengkapnya simak ulasan berikut ini.

1. Hama Lalat Buah

Hama Penyakit Utama Pare
gejala serangan hama lalat buah

Jika ada pernah mengamati lalat buah sekilas Nampak seperti seekor lebah madu. Bentuk tubuh serta warnanya seringkali membuat orang salah membedakannya dengan lebah.

Jika lebah membantu tanaman proses penyerbukan, lalat buah justru berperan sebagai sebuah hama atau hewan perusak.

Tak tanggung-tanggung dampak yang diakibatkan serangan lalat buah seringkali membuat petani pare mangalami gagal panen, sehingga sangat pantas menempatkan lalat buah sebagai hama utama tanaman pare.

Gejala serangan hama lalat buah

Di areal penanaman pare, lalat buah mudah ditemui dan bergerak cukup gesit. Dan selalu kita akan jumpai dia singgah pada bagian buah yang masih kecil.

Tak sekedar singgah, ternyata lalat buah saat itu sedang meletakkan telurnya, dengan cara menyuntik bagian kulit buah pare dengan alat penusuk yang disebut ovipositor.

Bekasnya bisa anda amati pada bagian kulit, semacam ada titik hitam. Berjalannya waktu, telur tersebut akan berkembang menjadi larva atau ulat yang akan merusak buah pare dari dalam.

Akibatnya, buah rusak, busuk dan biasanya akan rontok atau jatuh sekalipun buah tersebut masih belum masak.

Pengendalian hama lalat buah

Pengendalian hama lalat buah ini bisa dibilang, susah-susah gampang. Pengendalian lalat buah dengan insektisida berdasarkan pengalaman cenderung kurang efektif.

Biasanya petani menggunakan insektisida dengan bau yang cukup menyengat misalnya profenofos, metomil dan lain-lain, namun karena karakter hama ini cukup mobile (bergerak dan berpindah cepat), maka penggunaan insektisida tersebut bisa dibilang hanya mencegah dan mengusir saja.

Cara yang masih efektif adalah dengan penggunaan trapping yang diberi antraktan metil eugenol, yang cukup  mengurangi populasi lalat buah.

Selain itu, agar buah aman dari serangan lalat buah, tetep mulus hingga panen, petani sebaiknya  membungkus buah yang masih pentil baik itu dengan kertas koran maupun dengan pembungkus dari plastic yang saat ini sudah banyak dijual di pasaran termasuk di toko pertanian terdekat anda.

Terakhir, cukup penting untuk tak dilewatkan. Dalam upaya menekan perkembangbiakan lalat buah, petani sebaiknya membersihkan buah pare yang busuk, kemudian dikubur sekiranya larva tersebut mati, tidak lepas dan berkembang biak lagi.

2. Hama Ulat Grayak

gejala serangan ulat grayak pada pare

Ulat grayak ini hebat, tidak takut rasa pahit. Buktinya buah pare yang rasanya begitu pahit pun ia tak gentar untuk melahapnya.

Ya, hama ulat grayak cukup sering merepotkan petani pare karena biasanya ia menyerang buah pare secara kroyokan atau bergerombol.

Gejala serangan hama ulat grayak

Meskipun bekerja secara ramai-ramai, banyak petani yang terkadang tak sadar buah parenya sudah banyak yang bolong-bolong.

Hal ini dikarenakan ulat ini biasanya bekerja sembunyi-sembunyi alias aktifnya di malam hari saat pemilik tanaman sedang tidur, sementara saat petani siang hari nyari-nyari si hama, si hama ini justru lagi sembunyi.

Jika populasinya sudah banyak perlulah untuk dikendalikan, jika tidak, buah tersebut akan rusak dalam semalam. Akibatnya ia bisa tidak laku dijual karena kondisinya yang sudah tidak mulus dan menarik lagi.

Pengendalian hama ulat grayak

Pengendalian hama ulat grayak ini efektif dengan menggunakan insektisida. Petani biasanya menggunakan insektisida kontak saat pagi hari sebelum matahari terbit, karena biasanya ulat grayak masih ada di sekitaran tanaman, sehingga racun bisa mengenai langsung hama.

Sementara itu petani banyak juga yang menggunakan insektisida sistemik, namun mengaplikasikannya saat sore hari. Dengan tujuan hama akan mati saat memakan daging buah.

3. Penyakit Kresek

gejala serangan kresek pada pare, namun telah terhenti

Tanaman pare saat musim hujan atau saat tingkat kelembaban udara tinggi, tanaman pare cukup rentan terhadap serangan jamur.

Khususnya jamur Pseudoperonospora yang merupakan penyebab penyakit embun bulu atau downy mildew atau yang jauh lebih popular dikenal dengan kresek.

Gejala serangan penyakit kresek pada pare/paria

Cukup mudah untuk mengidentifikasi adanya serangan penyakit kresek ini. Bisa dilihat dari gejalanya yaitu berupa bercak kuning yang muncul di sepanjang tulang daun.

Lalu coba anda amati di bagian bawah daunnya, pasti anda akan menemukan bulu-bulu halus putih ke abuan yang merupakan koloni jamur Pseudoperonospora.

Selanjutnya jika penyakit tanaman tersebut tidak segera anda kendalikan, maka gejala bercak kuning tadi akan berubah menjadi warna coklat, kemudian mengering dan akhirnya akan gugur.

Pengendalian penyakit kresek pare

Penyakit kresek yang menyerang bagian daun tanaman pare, kita lihat cukup lumayan sekali dampaknya. Daun tanaman yang merupakan organ penting bisa habis mengering.

Saat pada titik tertentu terkena serangan, jamur Pseudoperonospora akan mudah menyebar ke bagian daun yang belum diserang dibantu adanya angin.

Meskipun bisa membuat tanaman anda botak, perkembangan penyakit ini tidak serta merta bisa membuat semua daun tanaman anda pare mengering dalam hitungan hari.

Oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian dengan tepat bahkan saat belum terlihat adanya gejala serangan. Yap pencegahan lebih penting daripada mengobati.

Cara untuk mencegah serangan kresek pare, dengan kata lain ini saat belum nampak adanya gejala serangan, petani perlu melakukan penyemprotan fungisida kontak seminggu sekali.

Saat menunjukkan adanya gejala serangan kresek, ditandai dengan sudah adanya bercak kuning di sekitar tulang daun.

Petani bisa melakukan pengendalian kresek pare dengan menyemprot fungisida sistemik, bisa ditambah fungisida kontak, dilakukan secara bergantian atau di-mix. Untuk aplikasinya sendiri bisa seminggu sekali, atau seminggu 2 kali tergantung tingkat keparahan serangan.

Baca juga : Memahami Cara Kerja Pestisida Tanpa Bingung Lagi

Nah sobat BT, itulah 3 hama penyakit utama tanaman pare yang berdasarkan pengalaman cukup sekali merepotkan kami. Apakah anda punya pendapat dan pengalaman yang sama ??

Bagikan Artikel Ini Bosque ! Trims.

Leave a Reply

Your email address will not be published.