Menu

(Terbukti) 3 Teknik dan Cara Pengendalian Kutu Kebul Secara Efektif dan Efisien

Belajartani.com – Assalamualaikum sobat BT semua, apa kabar? Semoga baik selalu ya. Akhirnya bisa update posting nih setelah agak lama nggak ada tulisan terbaru lagi. 

Sebenarnya ada sekitar 30 judul artikel yang uda saya list, tapi ya gitu karena saya orang yang rajin makanya hanya bisa 1 artikel saja yang bisa terposting..huahaha :mrgreen:

Nah, kali ini saya mau bahas tentang kutu kebul ya guys, kebetulan akhir-akhir ini, meski musim hujan, serangan kutu kebul di lapangan diketahui cukup banyak dan ini cukup bikin pusing 7 keliling kepala petani (entah apa karena efek perubahan iklim..waallahu a’lam).

Dari sekian banyak hama yang menyerang tanaman budidaya (horti maupun pangan), kutu kebul (Whitefly) atau Bemicia tabaci menjadi salah satu momok yang menakutkan bagi kebanyakan petani (setuju…? :-D). Bagaimana tidak, akibat serangan kutu kebul ini tanaman bisa gagal produksi dengan tingkat kehilangan hasil hingga 100%. Ngeri-ngeri sedap kaaann…?!

Definisi kutu kebul

Kutu kebul dan massa telurnya

Kutu kebul, yang nama latinnya Bemisia tabaci adalah serangga berukuran kecil dan bewarna putih. Disebut dengan kutu kebul karena hama ini biasanya ditemukan pada daun secara berkelompok. Apabila tanaman disentuh (sebagai reaksi bahwa mereka sedang terganggu), hama tersebut akan beterbangan dan terlihat seperti kabut (kebul).

Siklus hidup kutu kebul. Sumber gambar : BALITSA

Kutu kebul mempunyai siklus hidup yang cukup singkat yakni berkisar 3-4 minggu. Kutu kebul dapat bertelur melalui perkawinan dan tanpa perkawinan (partenogenesis). Siklus kutu kebul akan jauh lebih cepat pada musim kemarau atau pada dataran rendah.

Dampak serangan kutu kebul

Serangan kutu kebul mengakibatkan dampak secara langsung maupun tidak langsung, yaitu :

  • Dampak langsung : Gejalanya daun tanaman menjadi keriting, klorosis (menguning), belang (mosaik) pada daun akan menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak produktif.
  • Dampak tidak langsung : Kutu kebul menjadi penyebar virus penyakit kuning (gemini virus). Virus gemini atau yang dikenal juga brekele, bule atau penyakit kuning ini ditularkan secara persisten (tetap) artinya sekali kutukebul makan tanaman yang mengandung virus kuning, maka selama hidupnya dapat menularkan virus kuning.

Virus kuning (gemini virus) mempunyai kisaran inang yang luas dan mampu menginfeksi berbagai jenis tanaman, seperti tomat, terung, tembakau, timun, semangka, kubis, kentang, kedelai, kapas, buncis. Dan hebatnya lagi virus ini dapat menyerang berbagai umur tanaman. Ditemukan di dataran rendah dari 100 m dpl hingga dataran tinggi di atas 1000 m dpl dan tingkat serangannya semakin parah pada musim kemarau.

Gejala serangan kutu kebul pada cabai

Gejala pada cabai, Capcisum annuum pertama kali muncul pada daun muda/pucuk berupa bercak kuning di sekitar tulang daun, kemudian berkembang menjadi urat daun berwarna kuning (vein clearing), cekung dan mengkerut dengan warna mosaik ringan atau kuning (Balitsa, 2008).

Gejala berlanjut hingga hampir seluruh daun muda atau pucuk berwarna kuning cerah, dan ada pula yang berwarna kuning bercampur dengan hijau, daun cekung dan mengkerut berukuran lebih kecil dan lebih tebal (Balitsa, 2008).

Gejala serangan virus kuning. Sumber gambar : BALITSA

Akibat dari gejala serangan di atas sudah pasti proses fotosintesis pada tanaman menjadi tidak normal (karena daun mengalami klorosis) sehingga pertumbuhan tanaman terhambat. Akhirnya tanaman menjadi kerdil dan tidak produktif sama sekali. Bagi anda yang berpengalaman jadi korban kutu kebul, rasanya jengkel syekaliiih bukan…??? 😥

Tanaman cabai yang merana akibat serangan gemini virus (emott sediiihhh)

3 teknik dan cara pengendalian kutu kebul secara efektif dan efisien

Berdasarkan uraian di atas kita sepakat bahwa serangan kutu kebul tidak bisa dianggap enteng dan perlu mendapatkan perhatian serius. Sebagaimana pepatah bijak, “lebih baik mencegah daripada mengobati”. Oleh sebab itu alangkah baiknya sebelum serangan kutu kebul membuat anda gigit jari, lebih baik dilakukan pengendalian sedini mungkin.

3 teknik ini mungkin terlihat sepele bagi kebanyakan petani, tapi jangan salah teknik-teknik ini terbukti sangat efektif dan efisien. Nantinya dengan penggunaan teknik ini diharapkan mampu mengurangi penggunaan pestisida (agrochemical).

1. Aplikasi sistem air curah (Sprinkler Irrigation)

Sistem air curah ini terbukti sangat efektif dalam mengendalikan kutu kebul meski tanpa penggunaan insektisida. Percikan air dari springkler membuat kutu kebul tercuci dan dapat merusak telur-telur yang ada pada permukaan daun. Teknik ini sangat direkomendasikan karena selain menekan biaya untuk pestisida juga ramah lingkungan tentunya.

2. Aplikasi perangkap kuning (yellow trap)

Aplikasi atau penggunaan perangkap kuning atau yellow trap dilakukan dengan memasang papan kayu yang di cat kuning dan telah diolesi dengan oli. Serangga kutu-kutuan seperti kutu kebul secara alami tertarik pada warna kuning. Jika anda ingin lebih hemat, anda bisa menggunakan kertas yang bewarna kuning lalu diolesi oli.

3. Aplikasi tanaman penghalang (barrier)

Teknik ini dilakukan dengan bertujuan untuk menghalangi serangga vektor dan penyakit lain agar tidak dapat masuk ke tanaman budidaya utama. Tanaman barrier yang biasa digunakan adalah jagung. Ini dikarenakan jagung mempunyai bulu-bulu yang dapat membuat kutu kebul datang bertelur disana dan tidak masuk ke tanaman utama (correct me if i wrong). 😀

Perhatiaann…!

3 teknik dan cara pengendalian kutu kebul tersebut menurut pengalaman saya terbukti efektif dan efisien, very recomended lah pokoknya. Dan kalau dilihat-lihat lagi teknik dan cara di atas lebih condong ke upaya pencegahan. Mengapa? Karena kutu kebul ini juga berperan sebagai vektor virus gemini sehingga perlu dikontrol (populasi dan serangannya) agar jangan sampai tanaman terserang parah. Karena kalau sudah parah maka akan sulit dipulihkan, alias terpaksa tanaman harus dibongkar.

Oiya jangan lupa sobat BT, dengan aplikasi teknik di atas bukan berarti anda menghilangkan penggunaan pestisida sama sekali. Sama sekali tidak. Aplikasi pestisida kimia juga perlu dilakukan tapi sebagai alternatif terakhir. Penggunaan pestisida kimia diharapkan dapat ditekan, sehingga mengurangi kerusakan ekosistem, kekebalan hama (resistensi) dan ledakan hama.

Jika anda lebih hemat lagi anda bisa aplikasi pestisida nabati (pesnab). Anda bisa membuat sendiri dengan bahan-bahan yang sangat mudah didapatkan di sekitar anda. Untuk lebih detailnya anda bisa membaca artikel tentang 7 Tanaman Pestisida Nabati, Yang Terbukti Efektif Mengendalikan Hama Kutu-kutuan serta Cara Pembuatannya.

Demikian uraian saya tentang teknik pengendalian kutu kebul Bemicia tabaci ini. Jika anda mempunyai teknik yang lebih baik lagi, jangan ragu-ragu menuliskan di kolom komentar. Tentu saya dan sobat BT yang lain akan sangat senang sekali. 😆

Baca juga :

Semoga bermanfaat..! Jangan lupa bagikan kepada saudara, sahabat dan teman-teman anda yang lain. Sekian dan terimakasih ^^

Salam hangat 🙂

BelajarTani.com

Bagikan ke teman anda :
  • 213
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    213
    Shares
  •  
    213
    Shares
  • 213
  •  
  •  
  •  
  •  

Tambahkan sebagai Teman

Arsip BelajarTani.com

Choose Language

Follow BelajarTani.com

Terimakasih telah mengunjungi BelajarTani.com, Jangan lupa like and share ya Sob..! [HL♥PISD]