Menu

Petani dan Warisan Peradaban

16/07/2017 | Kolom Opini
Share this :

Belajartani.com – Menulis adalah salah satu dari 3 tradisi intelektual yang jadi pondasi sebuah peradaban. Lihatlah peradaban-peradaban lama yang telah punah Ā dan hilang tapi dapat kita ketahui sejarahnya karena adanya peninggalan dalam bentuk tulisan seperti prasasti dan manuskrip misalnya. Dari peningalan tersebut kita jadi tahu betapa peradaban dulu telah berkembang dan maju.

Di era demokrasi seperti sekarang ini kebebasan berekspresi, menyampaikan ide dan pemikiran begitu diberi tempat. Oleh sebab itu tak sedikit yang menggunakannya sebagai alat perjuangan, memperjuangkan idealisme atau ideologi yang mereka anggap benar dan patut diperjuangkan. Sehingga muncul istilah populernya keyboard warrior (pasukan keyboard), panastak dan panasbung.

Setuju atau tidak, mungkin disanalah letak keistimewaan tulisan. Walau tak terlihat kasat mata, namun dampaknya bisa menembus relaung hati yang paling dalam, dan sekaligus menggerakkan anggota tubuh lain untuk bertindak dan bergerak.

Menulis sudah menjadi hobi dan habbit (kebiasaan) bagi semua orang. Hampir semua orang, disadari atau tidak, berbakat menjadi penulis. Terutama di era media sosial seperti ini. Barangkali hampir tak ada orang yang tak punya akun facebook, menulis status, mengirim foto dan upload video.

Hampir semua orang dengan berbagai latar belakang, termasuk petani. Tipologi petani sebenarnya dari segi teknologi budidaya tidaklah jauh berbeda dengan negara lain. Bahkan banyak petani dari negara lain yang belajar tani dari negara kita.

Dari segi teknologi informasi, petani kita sudah akrab dan familiar dengan media sosial (social media). Hampir semua jenis petani, pangan dan horti mungkin sudah punya akun facebook. Terlebih sekarang di era android, petani bisa meng-install berbagai aplikasi pertanian.

Di tengah isu penutupan media sosial, seperti telegram, youtube dan facebook itu sebenarnya tergantung bagaimana masing-masing orang menggunakannya. Jika digunakan untuk kejahatan maka sejatinya ia sedang menanam untuk dirinya sendiri.

Lain halnya jika media sosial dan internet digunakan untuk berbagi. Berbagi ilmu dan pengalaman tidak ada ruginya, justru manfaat dan pahalanya akan terus mengalir. Ilmu dan tulisan anda tak akan kadaluarsa untuk diwariskan ke anak cucu anda.

Percayalah anda akan mendpatkan pahala disaat ada orang yang mengamalkan apa yang telah dipelajarinya dari anda. Jangan pernah takut ilmu anda berkurang, justru akan terus termotiasi untuk terus belajar dan berbagi.

Seperti di media belajartani.com, saya mencoba menulis berbagai gagasan, ide atau pengalaman seputar pertanian. Dari tahap beta hingga kini mulai berkembang pesat, semangat untuk menulis justru semakin menyala.

Mungkin dari anda, ada yang suka menulis dan ingin menyebarkan gagasan, ide sekaligus pengalaman anda, atau kegiatan pertanian di daerah anda. Anda bisa mengirim tulisan atau artikel anda di website ini melalui laman kontak.

Siapapun anda baik petani, praktisi, mahasiswa atau siapapun yang peduli dengan bidang pertanian Indonesia. Tema tentang apapun di bidang pertanain, agar pengetahuan dan pengalaman anda bisa bermanfaat bagi orang lain.

Seperti kata pepatah, ā€œjika gajah mati meningggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama, ide dan gagasan yang terus hidup hingga generasi di akhir zaman nantiā€.

Petani sebagai insan cita juga akan mewariskan peradaban untuk generasi masa depan. Di era sekarang petani bisa mewariskan ide, gagasan dan pengalamannya berupa tulisan yang tersimpan di server internet dan dibaca oleh umat manusia di seluruh dunia.

Jadi, tunggu apalagi sobat BT, yuk kita menulis:-D

Sekian dan terimaksih ^^

Salam hangat šŸ™‚

BelajarTani.com

Bagikan ke teman anda :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
loading...

Related For Petani dan Warisan Peradaban

Tambahkan sebagai Teman

Arsip BelajarTani.com

Follow BelajarTani.com