Menu

Musim kemarau basah, produksi tembakau diprediksi turun 15%

21/07/2016 | Info Agribisnis
Share this :
amti co id

sumber gambar : amti.co.id

Kabarbisnis.com – Musim tanam tembakau tahun ini dirasa berat oleh petani. Selain karena musim tanam bertepatan pada bulan puasa dan mendekati lebaran, pada tahun ini terjadi kemarau basah. Akibat kondisi tersebut, produksi tembakau tahun ini diperkirakan mengalami  penurunan sebesar 15% dibanding tahun lalu.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia, Soeseno mengatakan, pada tahun ini hujan masih saja turun walaupun sudah masuk pada bulan Juni. Di beberapa sentra produksi tembakau, seperti Jember, Bondowoso dan Probolinggo juga masih ada hujan. Padahal jika musim masih basah akan berdampak negativ terhadap pertumbuhan tanaman tembakau.

“Kalau masih basah, resikonya besar kan untuk menanam tembakau. Selain itu, sekarang mendekati Hari Raya Idul Fitri, petani enggan untuk melepas modal besar, mereka tidak berani. Sementara panen juga tidak mungkin sebelum lebaran. Makanya area tembakau yang sudah tertanami masih kecil, hanya sekitar 40% saja,” ujar Soeseno di Surabaya, Jumat (17/6/2016).

Menurut pengakuannya, saat ini lahan tembakau di Indonesia mencapai sekitar 186.000 hektar. Area tersebut tersebar di berbagai daerah, utamanya Jawa Timur. Luas lahan  tembakau di Jatim mencapai 60% dari total luasan lahan tembakau nasional. Sementara produksinya juga menyumbang sebesar 60% dari total produksi tembakau nasional yang mencapai 168.000 ton per tahun.

Walaupun demikian, petani tetap berharap hujan akan segera berhenti sehingga mereka bisa kembali bertanam tembakau. Karena memang nilai ekonomis tanaman tembakau cukup tinggi. Jika dibanding berbagai tanaman hortikultura musim kemarau, tembakau adalah yang tertinggi.  Dibanding tanaman jagung,  produksi dan nilai ekonomisnya bisa mencapai 10 kali lipat. “Jika diindex misalnya, jagung seribu maka tembakau sepuluh ribu,” katanya.

Karena itulah Petani merasa enggan dan tidak mau jika kemudian diwajibkan melakukan konversi dari menanam tembakau ke berbagai tanaman  holtikurtura alternative lainnya, seperti jagung, ketela, kacang hijau ataupun tebu. Apalagi masa tanam tembakau relative lebih pendek, hanya sekitar 4 bulan.

“Jika disuruh beralih menanam tanaman hortikultura lain sesuai dengan artikel 17 dan 18 Framework Convention on Tobacco Control atau FCTC tentang pedoman perencanaan konversi lahan tembakau, petani menolak,” jelasnya.

Sementara harga tembakau juga relative lebih mahal. Harga tembakau kering disaat anjok, masih dikisaran Rp 9.000 per kilogram untuk jenis tembakau daun dan Rp 17.000 per kilogram untuk tembakau rajang. Sedangkan harga disaat baik bisa mencapai Rp 53.000 per kilogram atau lebih untuk tembakau rajang dan tembakau daun mencapai sekitar Rp 43.000 per kilogram.

“Apalagi  tembakau Madura, harganya stabil tinggi karena tembakau Madura sangat digemari pabrikan, aromanya oriental dan warnanya juga bagus,” ujarnya.

Petani, kata Soeseno, justru menginginkan pemerintah hadir dalam pengaturan tata niaga tembakau.  Sebab, sejauh ini tata niaga tembakau di Indonesia sangat rumit. Rantai disribusi dari petani ke pabrikan sangat panjang, bisa melewati enam tangan. Sehingga petani mendapatkan keuntungan paling kecil.

“Jika dihitung, keuntungan yang didapatkan petani hanya sebesar 7%, sementara negara, karena penarikan cukai, keuntungannya paling sebesar, mencapai 65%. Dan keuntungan pedagang bisa mencapai sekitar 13% lebih,” terangnya.

Dengan adanya campur tangan pemerintah, petani berharap rantai distribusi bisa disederhanakan, dari petani ke pengepul besar,setelah itu langsung ke pabrikan. Tidak seperti saat ini, dari petani ke pengepul kecil, ke pengepul besar, setelah itu ke pedagang kecil, ke pedagang besar baru ke pabrikan.

“Dan itu bisa direalisasikan jika ada komitmen pemerintah dengan mengeluarkan aturan yang baku. Seperti di China, pabrikan diwajibkan mengambil tembakau langsung dari koperasi petani. Kalau disini, koperasi petani tidak dilindungi dan dibiarkan bertarung sendiri dengan pemodal besar. Harusnya koperasi diberikan akses untuk masuk pasar agar rantai distribusi menjadilebih sederhana,” pungkasnya.

 

Bagikan ke teman anda :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related For Musim kemarau basah, produksi tembakau diprediksi turun 15%

Tambahkan sebagai Teman

Arsip BelajarTani.com

Choose Language

Follow BelajarTani.com

Terimakasih telah mengunjungi BelajarTani.com, Jangan lupa like and share ya Sob..! [HL♥PISD]