Menu

Inilah Tipe-tipe Petani yang Ada di Indonesia. Anda Tipe yang Mana?

16/10/2016 | Info Agribisnis, Review

Belajartani.com – Halluuw sobat BT, berbicara tipe-tipe petani sebenarnya tidak jauh berbeda saat kita berbicara tentang manusia itu sendiri. Bentuk dan karakteristiknya bermacam-macam tentunya. Banyak hal yang membentuk karakteristik petani baik itu faktor internal maupun eksternal.

Kondisi internal lingkungan dimana petani itu tinggal, sangat mempengaruhi perkembangan pola pikirnya, karena tiap lokasi dan daerah memiliki beragam budaya yang berbeda dengan daerah yang lainnya. Belum lagi adanya pengaruh informasi dari dunia luar juga bisa membentuk dan merubah pola pikir petani.

Karakter dan sikap mental petani menjadi salah satu penentu kesuksesan usaha taninya tanpa mengesampingkan faktor pengetahuan dan teknis yang petani gunakan. Tapi perlu diingat bahwa pilihan-pilihan teknis yang akan diterapkan di lapangan akan berakhir pada pengetahuan dan sikap mental petani itu sendiri.

Sangat menarik mengkaji tentang hal ini karena jika saya dan anda memahami tentang karakter petani maka anda akan dengan mudah menemukan solusi dan cara bagaimana melakukan penyuluhan, pedampingan sehingga informasi dan inovasi yang akan anda sampaikan akan bisa diterima dengan baik.

Nah sobat BT, setidaknya ada beberapa tipe atau jenis petani di Indonesia antara lain berdasarkan karakteristik luas lahan, orientasi atau tujuan bertani, teknologi, dan sifat individu petani. Simak selengkapnya di bawah ini :

petani-gurem

Ilustrasi petani gurem. Sumber gambar : pixabay.com

#1 Tipe Petani Berdasarkan Luas Lahan

Berdasarkan hasil ST2013, jumlah petani di Indonesia tercatat sebanyak 26,14 juta orang. Menurun sebesar 16,32 persen dari hasil Sensus Pertanian 2003 (ST2003) yang tercatat sebanyak 31,23 juta petani). Berdasarkan lahan petani dibagi dalam 2 kelompok besar yaitu petani gurem dan non gurem.

1. Petani Gurem, adalah petani yang menguasai lahan kurang dari 0,50 Ha. Hasil ST2013 oleh BPS menunjukkan bahwa sebesar 55,33 persen petani Indonesia (14,25 juta petani) merupakan petani kateori petani gurem. Dari hasil ST2013 dari kelompok petani gurem, paling banyak yang menguasai lahan dengan luas antara 0,20–0,49 Ha, yaitu sebanyak 6,73 juta petani. Berbeda hasil ST2003 jumlah petani terbanyak menguasai lahan dengan luas kurang dari 0,10 Ha, yaitu sebanyak 9,38 juta petani.

2. Petani Non Gurem, adalah petani yang memiliki atau menguasai lahan 0,50 Ha atau lebih. Petani non gurem dari hasil ST2013 jumlahnya sebesar 44,67 persen (11,50 juta petani).

petani-peasant

Ilustrasi petani yang tidak berorientasi bisnis. Sumber gambar : pixabay.com

# 2 Tipe Petani Berdasarkan Orientasi/Tujuan Bertani

1. Berorientasi Ekonomi, tipe petani yang berorientasi ekonomi adalah tipe petani yang menggunakan prinsip ekonomi dalam usaha taninya yakni biaya seefisien mungkin serta hasil yang maksimal. Petani tipe ini pada tiap usaha taninya selalu menghitung setiap biaya yang dikeluarkan, hasil panen, keuntungan atau kerugian yang diperoleh. Petani ini umumnya memiliki managemen tanam dan keuangan (tata kelola) yang baik.

Nah, apabila ternyata didapati bahwa usaha taninya tidak menguntungkan atau tidak efisien, petani ini akan mencari komoditas yang biaya nya kecil, proses on farm nya tidak membutuhkan waktu banyak tapi menghasilkan banyak rupiah.

Selain itu tipe petani ini akan lebih cenderung open terhadap perkembangan teknologi. Terutama teknologi yang bisa memangkas biaya operasional mereka, misal traktor untuk mengurangi biaya tenaga kerja bajak, teknologi rumah kaca untuk mengurangi biaya pestisida, serta teknologi drip tape untuk mengurangi biaya irigasi.

2. Berorientasi Non Ekonomi, tipe petani yang berorientasi non ekonomi adalah petani yang melakukan kegiatan pertanian hanya digunakan untuk sekedar memenuhi kebutuhan rumah tangganya dan tidak ada niat untuk dijual.

Walaupun tidak menghasilkan keuntungan, petani tipe ini tetap saja melakukan kegiatan tani karena baginya kegiatan bertani adalah sebuah cara hidup (way of life). Walaupun sebenarnya jika tak bertani pun mereka dapat membeli segala kebutuhan sembako nya tapi dengan bertani sendiri, mereka seperti mendapatkan ketenangan dan kepuasan batin yang lebih.

Petani tipe ini pada umumnya banyak di pedesaan yang sifat gotong royongnya masih tinggi, jadi sama sekali mereka tidak ada orientasi bisnis. Hal ini dibuktikan ketika mereka panen melimpah, mereka tidak lupa memberikan kepada tetangga-tetangga mereka walaupun sedikit. Sungguh sebuah fenomena kearifan lokal yang sangat mulia, bukan..?

petani-tradisionalis

Ilustrasi petani tradisionalis. Sumber gambar : pixabay.com

#3 Tipe Petani Berdasarkan Penggunaan Teknologi

1. Petani Tradisionalis, tipe petani yang dalam usaha taninya lebih banyak menggunakan peralatan yang sederhana, contohnya cangkul untuk membuat bedengan atau bajak sapi untuk olah tanah. Petani yang masuk tipe ini, bisa jadi mereka belum mengetahui perkembangan teknologi terbaru atau karena mereka tidak punya uang untuk membeli peralatan modern.

Menariknya tipe petani tradisionalis ini bukan berarti tipe petani yang miskin (gurem) loh. Di pedesaan anda akan menemukan petani ini adalah petani besar, kaya dan berlahan luas.

Lantas mengapa masih menggunakan alat yang sederhana tadi jika sebenarnya mereka mampu membeli alat yang modern dan mahal? Ternyata ini tidak lepas dari fenomena sosial ekonomi, sobat BT. Kalo anda bertanya, kebanyakan mereka menjawab begini;

jika saya pakai mesin semua, nanti tetangga saya bisa jadi pengangguran. Nah mereka kan punya keluarga, kalo mereka pengangguran siapa yang akan ngasih nafkah keluarga mereka. Pemerintah? emang pemerintah peduli

Begitu kira jawaban petani yang dulu pernah saya wawancarai. Cukup menohok memang tapi sungguh mulia bukan menjadi orang kaya yang baik hati bukan? Coba bayangkan berapa banyak doa orang yang dia tolong yang akan jadi catatan para malaikat? Padahal kalo kita beramal untuk yang di bumi, maka berkah dari langit akan turun kan? hehe. Thats the point, guys..!

2. Petani Modernis, tipe petani yang selalu berorientasi pada teknologi terbaru. Mereka tahu dan sadar bahwa teknologi adalah salah satu aspek yang bisa meningkatkan produktivitas panen dan meminimalisir biaya. Oleh karena itu tipe petani ini tak banyak pikir panjang mengeluarkan Banyak uang untuk membeli mesin baru.

Tipe petani ini selalu meng-update kemampuan teknis dan mekanis budidayanya. Mereka cenderung kreatif dan inovatif, serta berorientasi pada data statistik. Kebanyakan mereka juga sudah familiar dengan internet dan media sosial serta memiliki kemampuan berdiskusi dan akses kepada pihak-pihak yang tidak semua orang bisa.

petani-pembelajar

Ilustrasi petani pembelajar. Sumber gambar : pixabay.com

#4 Tipe Petani Berdasarkan Karakter atau Sifat

1. Tipe Pembelajar, adalah tipe petani yang selalu suka belajar hal-hal baru. Tipe petani ini adalah tipe pencoba, mudah penasaran, dan suka tantangan. Jadi begitu ada informasi varietas baru atau program baru, maka dialah pertama kali yang maju ke depan.

Selain itu tipe petani ini biasanya suka berdiskusi dan suka membandingkan. Maksutnya membandingkan teknik atau cara, teknik mana yang lebih baik sehingga wawasannya pun menjadi luas. Jadi, kebanyakan petani ini sukses karena pemahaman dan managemen teknisnya sudah di atas rata-rata petani yang lain.

2. Tipe Perintis, hampir sama dengan tipe pembelajar, bedanya tipe perintis ini terkadang menerapkan hal-hal yang belum pernah diterapkan orang lain bahkan penyuluh sebelumnya. Informasinya pun dari banyak sumber seperti internet, buku, majalah atau dari petani di daerah lain.

Sifatnya yang kreatif ini membuat levelnya jauh diatas kawan-kawannya. Apa yang orang tak berani orang lakukan dia lakukan. Biasanya saat gagal, dia akan menerima tertawaan dari rekan-rekan kelompoknya, namun jika yang terjadi sebaliknya maka dalam sekejap akan banyak sekali yang jadi pengikutnya, mengikuti cara-caranya dan mengangkatnya jadi master..haha

3. Tipe Pengikut, tipe petani ini adalah kebalikan dari tipe pembelajar dan perintis. Kalo tipe perintis adalah petani yang suka memulai untuk menemukan hal baru, maka tipe pengikut lebih suka passive. Dia baru akan ikut menanam jika temannya sukses. Kalo tidak ada bukti, maka jangan harap dia akan mau ikut program.  Wekawekaweka…!

4. Tipe Pendebat, kalo tipe pembelajar setiap mendapat informasi baru dia samikna waatokna, maka akan sebaliknya jika anda berhadapan dengan tipe pendebat. Tipe pendebat adalah tipe petani yang suka berkonfrontasi terutama soal teknis.

Petani yang masuk kategori ini umumnya memang sudah berpengalaman, adakalanya dia sudah menemukan caranya sendiri jadi pantang baginya mengikuti cara orang lain. Apalagi lawan debatnya adalah seorang pemula (newbie).

Nah, dia akan sekuat cara menunjukkan bahwa cara dia adalah yang terbaik. Namun, jika terbukti cara orang lain yang terbaik, kebanyakan tipe ini menerima dengan lapang dada, karena semua..semua..sudah tak lagi sama. Hehe.

Baca juga :

Nah sobat BT, itulah tipe-tipe petani yang ada di Indonesia versi belajartani.com. Apapun tipe nya yang penting berujung pada satu kata, yaitu sukses. Lalu bagaimana dengan anda? Anda tipe yang mana?

Sekian dan terimakasih ^^

Salam hangat 🙂

BelajarTani.com

 

Bagikan ke teman anda :
  • 9
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    9
    Shares
  •  
    9
    Shares
  • 9
  •  
  •  
  •  
  •  

Tambahkan sebagai Teman

Arsip BelajarTani.com

Choose Language

Follow BelajarTani.com

Terimakasih telah mengunjungi BelajarTani.com, Jangan lupa like and share ya Sob..! [HL♥PISD]