Menu

Curah Hujan Masih Tinggi, Waspada Serangan Penyakit Busuk Daun

30/06/2016 | Hama dan Penyakit
Share this :
sumber ilustrasi gambar : rii.ramah.org.il

sumber ilustrasi gambar : rii.ramah.org.il

Belajartani.com – Pengenalan

Berbicara penyakit busuk daun, petani mana yang tidak kenal dengan penyakit yang satu ini. Penyakit busuk daun atau disebut juga hawar daun (late blight) atau lodoh ini selalu muncul tiap kali musim tanam. Keberadaannya selalu menjadi momok bagi petani, karena jika tidak diwaspadai dan dikendalikan dengan tepat maka dampaknya akan sangat fatal..!

Ya, petani akan gagal panen, karena kondisi tanaman mengering dan mati, sebelum buah masak dan dipanen. Kalaupun petani sempat memanennya tentu kualitasnya tidak cukup baik untuk memenuhi permintaan pasar.

Penyakit busuk daun ini, disebabkan oleh jamur Phytophtora infestans (pada kentang dan tomat) dan Phytophtora capcisi (pada cabai). Jamur ini berkembang baik pada lingkungan dengan tingkat suhu yang rendah (cenderung hangat) berkisar 10-20 °C dan tingkat kelembaban yang tinggi > 80 %. Namun pada kondisi lingkungan yang kering, penyakit ini tidak akan dapat berkembang dan mati dengan sendirinya.

spora jamur Phytopthora infestans. sumber gambar : www.plantpath.cornell.edu

Waktu serangan

Penyakit ini berkembang pesat saat musim musim penghujan di mana intensitas serangannya tinggi, yaitu antara bulan Oktober – Februari, dan pada musim kemarau antara bulan Mei – Agustus intensitas serangannnya rendah.

Penyebaran dan tanaman inang

late_blight_tomato_leaves hyg dot ipm dot illinois dot edu

Phytopthora infestans pada tanaman tomat. sumber gambar : wikipedia.org

blight late

Phytopthora infestans pada tanaman kentang. sumber gambar : www.plantpath.cornell.edu

Penyebaran patogen/zoospora (spora kembara) dibantu oleh air dan angin. Tanaman inangnya antara lain kentang, tomat, cabai, semangka, terong dan waluh.

Gejala serangan

Mengidentifikasi penyakit ini cukup mudah, ciri-cinya daun meleleh seperti tersiram air panas. Serangan penyakit ini rawan terjadi saat tanaman berumur sekitar 1 bulanan.

Saat tingkat serangan awal, muncul bercak-bercak di bagian tepi dan ujung daun. bercak tersebut bewarna abu-abu sampai gelap dan sedikit basah. Di bagian bawah daun muncul spora jamur yang warnanya putih.

sumber gambar : wikipedia.org

Gejala serangan awal Phytophtora pada tanaman tomat. sumber gambar : wikipedia.org

Pada tingkat serangan lanjut, bercak-bercak tersebut akan menyebar ke seluruh bagian tanaman, daun, batang bahkan buah hingga tanaman mati.

serangan tingkat lanjut Phytopthora Infestans pada tanaman kentang. sumber gambar : wikipedia.org

serangan tingkat lanjut Phytopthora Infestans pada tanaman kentang. sumber gambar : wikipedia.org

Yang membuat ngeri, pada tingkat serangan yang ganas, dan didukung oleh kondisi lingkungan yang optimal tanaman bisa mati dalam waktu 1-4 hari.

Serangan Phytoptora yang parah. sumber gambar : pdic.content.ces.ncsu.edu

Serangan Phytoptora yang parah. sumber gambar : pdic.content.ces.ncsu.edu

Pengendalian

Pengendalian dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu secara kultur teknis dan secara kimiawi.

a. Pengendalian secara kultur teknis antara lain meliputi:

1. Pengolahan tanah yang baik

2. Menerapkan pola tanam dan rotasi tanaman dengan selain tanaman dari family yang sama (solanaceae).

3. Meningkatkan PH tanah dengan cara pengapuran (dolomit), hal ini dilakukan agar tanah menjadi netral dan patogen di dalam tanah menjadi mati. Selain itu unsur Ca (kalsium) dalam dolomit dapat memperkuat dinding sel tanaman.

4. Menerapkan jarak tanam yang agak lebar untuk meminimalisir iklim mikro, selain itu juga perlu perlu dilakukan pewiwilan ruas cabang di bawah cabang Y.

5. Menerapkan pemupukan yang tepat dan berimbang, terutama kebutuhan tanaman akan unsur K (kalium) agar tercukupi. Unsur K dapat memperkuat ketahanan tanaman dari serangan patogen.

6. Direkomendasikan untuk menggunakan varietas yang secara genetik tahan terhadap serangan patogen.

b. Pengendalian secara kimia antara lain meliputi:

1. Melakukan seed treatment dengan fungisida sistemik, sejak dari persemaian.

2. Penyemprotan pestisida dilakukan segera sejak muncul gejala serangan dan sampai telat…!

3. Penyemprotan menggunakan fungisida secara tepat dosis, waktu dan sasaran. Pada serangan tingkat awal interval penyemprotannya seminggu sekali dan pada tingkat serangan lanjut intervalnya 3-5 hari sekali menyesuaikan situasi dan kondisi di lapangan.

Untuk meningkatkan efektfititas penyemprotan dapat dilakukan dengan cara mencampur (mixing) fungisida yaitu yang cara kerja nya kontak dan sistemik. Fungisida kontak bersifat kuratif atau memulihkan, sedangkan fungisida sistemik bersifat protektif yaitu melindungi agar bagian tanaman lain yang belum terinfeksi, tidak terinfeksi.

Beberapa kombinasi bahan aktif yang bisa di mix antara lain (dosis 1-2 ml/liter :

klorotalonil (kontak) + dimetomorf (sistemik)

klorotalonil (kontak) + metalaksil (sistemik)

klorotalonil (kontak) + azoksitrobin (sistemik)

mankozeb (kontak) + dimetomorf (sistemik)

mankozeb (kontak) + metalaksil (sistemik)

propineb (kontak) + simoksanil (sistemik)

Baca juga : 3 Prinsip dalam Mencampur (Mixing) Pestisida yang Tepat

4. Jika penyemprotannya efektif, maka daun yang terserang akan kering dan serangannya terhenti. Hal ini menandakan bahwa jamur patogen yang ada pada bagian tanaman tersebut mati.

Semoga artikelnya bermanfaat ya dan jangan lupa share ke teman-teman anda. Terimakasih.

Bagikan ke teman anda :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
loading...

Related For Curah Hujan Masih Tinggi, Waspada Serangan Penyakit Busuk Daun

Tambahkan sebagai Teman

Arsip BelajarTani.com

Follow BelajarTani.com