Menu

Cara Mudah Menanam Timun, Simak langkah-langkahnya…!

28/02/2016 | Holtikultura
Share this :
young girl agronomist

sumber gambar : http://stock-clip.com/

Belajartani.com – Timun (Cucumis sattivus) merupakan salah satu sayuran buah yang sangat populer, bernilai ekonomis tinggi serta di digemari oleh masyarakat. Timun dapat ditemukan di berbagai makanan, terutama saat ini timun hampir ditemukan sebagai pelengkap di setiap jenis lalapan.

Pada postingan kali ini saya akan mencoba merangkum sistem budidaya pada tanaman timun. Mungkin sudah banyak blog dan tulisan yang membahas tema tentang budidaya timun. Tapi saya akan menyajikan berdasarkan pengalaman saya sendiri di lapangan. Tentu pengalaman masing-masing orang akan berbeda satu sama lain.

Tanaman timun memiliki daya adaptasi yang luas sehingga bisa ditanam mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. oleh karena itu, sobat belajartani.com, yang baru belajar dan belum pernah menanam timun pun bisa melakukannya.

Pada dasarnya budidaya tanaman di bagi menjadi 4 proses inti yaitu pra tanam, tanam, perawatan dan panen.

1.  Pengolahan tanah

1.1  Pra tanam (persiapan lahan)

Pengolahan tanah adalah upaya untuk mengembalikan kesuburan tanah melalui perbaikan struktur tanah, pH (keasaman tanah) dan zat hara tanah.

Perbaikan struktur tanah dilakukan dengan membajak tanah dan penggaruan. Bajak bertujuan untuk membolak balik tanah sehingga tanah yang di bawah yang subur berpindah ke bagian atas. Penggaruan, atau kegiatan untuk meratakan tanah, bertujuan untuk memperbaiki aerasi tanah .

Perbaikan pH tanah bisa dilakukan dengan penambahan dolomit atau kapur pertanian. Perbaikan unsur hara dilakukan dengan cara penambahan pupuk dasaran. Pupuk dasaran yang digunakan antara lain pupuk kandang, NPK dan dolomit. Bila perlu bisa ditambahkan SP-36 atau KCl.

Formulasi Pupuk Dasarpencampuran pupuk dasar

•  Kandang: 1,5 ton (30 sak @ 50 kg)/ 0,1 ha

•  NPK : 30 kg/ 0,1 ha

•  Dolomit : 20 kg/0,1 ha

•  SP36 : 10 kg/ 0,1 ha

•  KCL  : 10 kg/ 0,1 ha

Setelah tanah dibajak dan digaru kemudian tambahkan pupuk dasaran dan dolomit. Kemudian digacar (plotting) sesuai ukuran bedeng yang dikehendaki. Pemberian pupuk dasaran juga bisa dilakukan setelah tanah digacar, teknik ini biasanya dilakukan jika lahan hanya dicangkul dan tidak dibajak terlebih dahulu.

Idealnya pupuk dasaran diberikan pada dasar bedengan sebelum bedengan dibuat, bukan diberikan diatas bedengan yang telah jadi. Hal ini berkaitan dengan efektifitas penyerapan hara tanaman karena nantinya akar akan tumbuh ke bawah dan langsung dapat menyerap pupuk tersebut.

1.2  Pemasangan mulsa

lahan siap

Pemasangan mulsa dilakukan pada siang hari saat cuaca panas, antara jam 9-11 siang agar mudah ditarik, direnggangkan dan dipotong sesuai panjang bedengan.

Pada bagian tepinya digunakan pasak bambu untuk menguncinya sehingga mulsa tidak mudah lepas, terutama saat ada angin kencang.

Setelah itu mulsa dilubangi sesuai jarak tanam. Jarak tanam timun pada umumnya 40-50 x 60 cm. Setelah lubang tanam dibuat maka lahan pun siap ditanami timun (untuk tanaman lain misal cabe, tomat kurang lebih hampir sama, tinggal menyeesuaikan jarak tanam yang diinginkan).

Jarak tanaman dan lebar bedeng akan berpengaruh terhadap jumlah tanaman dalam luasan tertentu. Jarak tanam dan lebar bedeng inilah yang digunakan sebagai acuan dalam menghitung jumlah tanaman sehingga akan diketahui berpa jumlah benih yang dibutuhkan. Secara otomatis hal ini juga memudahkan kita dalam menghitung kebutuhan kita akan lanjaran dan kebutuhan pupuk per tanaman atau per luasan tertentu.

jarak tanam

Baca juga : Cara menghitung kebutuhan benih


2. Penanaman

2.1  Tanam (transplanting)

tanam

Penanaman dilakukan pada sore hari mulai jam 2-3 sore. Dua hari sebelum tanam lahan di leb (digenangi) setinggi ½ bedeng. Selanjutnya diberi insectisida berbahan aktif karbofuran misal furadan atau wingran 1 g/tanaman 2 hari sebelum tanam. Setelah pindah tanam, disiram pagi dan sore. Penyulaman maksimal 3-7 hari setelah tanam.

Penanaman bibit harus sejajar dengan mulsa dan tidak menyentuh mulsa. Bibit yang menyentuh mulsa akan kering dan mati karena efek panas dari mulsa tersebut. Selanjutnya disiram air kurang lebih 250 ml/lubang tanam, pagi atau sore agar dapat tumbuh dan tidak stress.

2.2  Pemasangan lanjaran dan pengikatan

Lanjaran dipasang 2-3 hari sebelum tanam, paling lambat sampai sebelum sulur keluar. Lanjaran berguna untuk memperkokoh tanaman. Selain itu agar tanaman kokoh, tiap penambahan tinggi 20-30 cm ditali dengan tali rafia. Hal ini agar pertumbuhan tanaman searah dengan lanjaran.


3.  Perawatan

leb

3.1  Pengairan

Untuk tumbuh optimal timun membutuhkan air dalam jumlah cukup (tidak kekurangan dan tidak kelebihan). Kekurangan air, menyebabkan tanaman atau batang lebih pendek, sedangkan kelebihan air, menyebabkan akar menjadi pendek, oleh karena itu lahan harus dikondisikan tidak ada genangan.

Pengairan pada musim kemarau dapat dilakukan dengan cara leb (menggenangi), namun hanya sampai 1/3 tinggi bedeng. Lalu bendung air sampai bagian lahan yang tergenang merata, sesaat kemudian buang air tersebut. Teknik ini digunakan untuk menghindari layu pada akar, selain itu teknik ini sudah cukup untuk memenuhi kenutuhan air. Selanjutnya pengairan harus dilakukan secara teratur 7 hari sekali.

3.2  Pemupukan susulan

Pemupukan susulan diberikan sebanyak 3 kali, aplikasi berupa pupuk kocor maupun tugal. Pengocoran efektif dilakukan pada musim kemarau dan tugal dilakukan saat musim hujan.

Susulan I Umur 7-10 hst NPK, 10 g/tanaman, 10 cm di samping lubang tanam
Susulan II Umur 20-25 hst NPK 20 g/tan, 20 cm dibawah lubang tanam
Susulan III Umur 35-40 hst NPK 20 g/tan, 20 cm dibawah lubang tanam

Selain dosis pupuk diatas untuk mempercepat pertumbuhan penambahan pupuk lain seperti Multi NP, Multi KP, KNO3 bisa digunakan (sesuai dengan dosis).

3.3  Pengendalian Hama Penyakit

Pengendalian hama penyakit mutlak dilakukan agar panen yang diperoleh optimal. Apabila salah penanganan akan berakibat pada kerugian kuantitas dan kualitas hasil. Penyemprotan obat jika :

•  Banyak serangan : 2-4 x seminggu

•  Kondisi normal : 1-2 x seminggu

Untuk tingkat serangan yang berat gunakan variasi dalam penyemprotan selain agar terjadi efektifitas juga menghindari resistensi hama penyakit. Misalnya jika terjadi serangan trips yang parah, bahan aktif imidakloprid dan piridaben di komparasi dengan emamektin atau abamektin.

Hama yang biasanya menyerang tanaman timun yaitu:

1. Trips, merupakan hama yang berperan sebagai vektor penyebaran virus. berukuran kira-kira 1 mm.

Gejala serangan; daun kering ke atas, daun menguning dan pertumbuhan kerdil.

Pengendalian: dengan insectisida berbahan aktif metomil, emamektin, imidakloprid, beta siflutrin, klorpirifos, abamektin dan lain-lain.

2. Kutu daun persik (Myzus persicae), bewarna kuning, kuning kemerahan, hijau gelap dan hitam. berukuran 1-2 mm. hama ini juga sebagai vektor virus.

Gejala serangan: pucuk daun menjadi keriput, keriting dan menggulung.

Pengendalian: dengan insectisida berbahan aktif tiametoksam, emamektin, imidakloprid, beta siflutrin, deltametrin, abamektin dan lain-lain.

3. Lalat buah (Dacus cucubetae), berukuran 1-2 mm, menyerang buah timun berusia muda untuk bertelur.

Gejala serangan: terdapat bekas suntikan pada buah, saat telur menetas menyebabkan buah abnormal dan membusuk karena dimakan oleh larvanya.

Pengendalian: dengan insectisida berbahan aktif lamda sihalotrin, emamektin, imidakloprid, beta siflutrin, piridaben, deltametrin dan abamektin atau menggunakan jebakan petrogenol.

4. oteng-oteng (Aulocaphora slmills), sebangsa kumbang daunberukuran 1 cm dengan sayap kuning polos.

Gejala serangan; memakan daun sehingga tersisa tulang daun saja.

Pengendalian: dengan insectisida berbahan aktif lamda sihalotrin, emamektin, imidakloprid, beta siflutrin, piridaben, deltametrin dan abamektin.

Penyakit yang biasanya menyerang tanaman timun yaitu:

1. Rebah bibit/dumping off (Phythium spp)

Gejala serangan: busuk basah pada batang bibit dekat dengan permukaan tanah, menyerang pertumbuhan radikula.

Pengendalian: mengugunakan fungisida berbahan aktif propineb, benomil, metalaksil atau tembaga hidroksida

2. Powdery mildew (Erysiphe cichoracearum)

Gejala: permukaan daun dan batang muda di tutupi tepung putih, kemudian menjadi kuning dan mengering.

Pengendalian: mengugunakan fungisida berbahan aktif mankozeb, propineb, metalaksil, difenokonazol atau tembaga hidroksida.

3. Downey mildew (Pseudoperonospora cubensis)

Gejala: daun bercak kuning dan menjamur, warna daun akan menjadi coklat dan membusuk.

Pengendalian: mengugunakan fungisida berbahan aktif mankozeb, metalaksil, atau tembaga hidroksida.


4.  Panen

Timun dipanen saat umur kurang lebih 32-35 hari dan masa panen berlangsung hingga kurang lebih 30 hari, tergantung varietas yang ditanam. Usahakan menggunakan varietas yang tahan virus dan potensi hasil tinggi. saat ini dipasaran beberapa varietas timun mempunyai potensi hasil 4-5 kg pertanaman.

cucumber southcenters

Anggap saja anda mempunyai lahan 500 m2, kira-kira 1200 tanaman, jika pertanamannya dapat menghasilkan 4 kg saja, berarti dari lahan tersebut anda dapat memanen 1200 x 4 = 4800 kg, anggap saja harga timun saat itu Rp. 3000/kg, maka pendapatan anda adalah Rp. 14.400.000, bayangkan jika saat itu harga timun Rp. 5000/kg? pendapatan yang anda peroleh cukup besar, bukan??

Nah bagaimana sobat belajartani.com, menanam timun ternyata cukup mudah kan? Jika anda suka menanam timun semoga artikel ini bisa membantu.  Demikianlah tip dari saya, mudah-mudahan bermanfaat, terimakasih.

Bagikan ke teman anda :
  • 11
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    11
    Shares
loading...

Related For Cara Mudah Menanam Timun, Simak langkah-langkahnya…!

Tambahkan sebagai Teman

Arsip BelajarTani.com

Follow BelajarTani.com