Menu

Cara mudah menanam Cabai Merah

10/03/2016 | Holtikultura
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

sumber:https://i1.wp.com/belajartani.com/wp-content/uploads/2016/03/hp-girl.jpg?resize=205%2C245Belajartani.com – Cabai merupakan sayuran yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Tanaman cabai memiliki daya adaptasi yang luas sehingga bisa ditanam mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Di masyarakat cabai yang dibudidayakan pada umumnya yaitu cabai merah besar dan cabai merah keriting.

Tanaman cabai dapat di tanam di lahan sawah maupun lahan kering. Namun untuk dapat optimal tanaman cabai memerlukan lokasi lahan yang subur, tidak tergenang, suhu udara berkisar 25-27° C, kelembapan udara 80%, curah hujan 600-1200 mm per tahun dan ber-pH 5,5-6,8. Selain itu dalam pemilihan lokasi agar memilih lahan yang bukan endemik virus dan bukan bekas tanaman se-family Solanacea.

Selain faktor di atas, pemilihan waktu tanam cabe sangat penting. Ini berkaitan erat dengan ketersediaan air, curah hujan serta serangan hama penyakit. Pada lahan kering atau tegal waktu yang tepat adalah pada awal musim kemarau yaitu antara bulan April-Juni. Sedangkan pada lahan sawah bekas padi di tanam pada akhir musim hujan yaitu Agustus-September.

Tanaman cabe sangat rentan terhadap serangan OPT, dimana OPT tersebut dapat menyebabkan kerusakan tanaman dan berakibat kegagalan panen. Ada beberapa cara untuk menekan serangan OPT yaitu dengan memodifikasi sistem tanam seperti pola tumpang sari, pola tumpang gilir, menanam tanaman perangkap, menanam tanaman penghadap atau menanam di rumah kasa (screen house).

Cabai Merah

sumber gambar: http://balitsa.litbang.pertanian.go.id

Sobat belajartani.com, modifikasi sistem tanam sebenarnya sangat menarik dan cukup signifikan dalam menekan serangan OPT. Tapi pada postingan kali ini kita akan fokus pada teknis budidayanya dulu, yaitu secara garis besar budidaya tanaman cabe juga di bagi menjadi 4 proses inti yaitu pra tanam, tanam, perawatan dan panen.


1.  Pra tanam (persiapan lahan)

1.1  Pengolahan tanah

Pengolahan tanah adalah upaya untuk mengembalikan kesuburan tanah melalui perbaikan struktur tanah, pH (keasaman tanah) dan zat hara tanah.

Perbaikan struktur tanah dilakukan dengan membajak tanah dan penggaruan. Bajak bertujuan untuk membolak balik tanah sehingga tanah yang di bawah yang subur berpindah ke bagian atas. Penggaruan, atau kegiatan untuk meratakan tanah, bertujuan untuk memperbaiki aerasi tanah.

Perbaikan pH tanah bisa dilakukan dengan penambahan dolomit atau kapur pertanian.

Perbaikan unsur hara dilakukan dengan cara penambahan pupuk dasaran. Pupuk dasaran yang digunakan antara lain pupuk kandang, NPK dan dolomit. Bila perlu bisa ditambahkan SP-36 atau KCl. Pupuk kandang yang digunakan dapat berasal dari kotoran ayam atau sapi.

Penggunaan dolomit disesuaikan dengan tingkat keasaman tanah atau pH, pH ideal untuk tanaman cabai yaitu 5,5-6,8. Jika pH tidak sesuai maka berdampak pada pertumbuhan tanaman selain itu tanaman juga menjadi rentan terhadap serangan hama penyakit. Oleh karena itu sebelum dilakukan olah tanah perlu dilakukan pengecekan pH tanah tersebut.

Formulasi pupuk dasar

No Pupuk dasar Kebutuhan (kg/0,1 ha)
1 Kandang 1,5-2,0 ton
2 NPK 30 kg
3 Dolomit 300-1000 kg

Tabel kebutuhan dolomit (kapur) berdasarkan pH tanah awal

No pH tanah awal Kebutuhan dolomit (kg/0,1 ha)
1 5,5 300 kg
2 5,0 500 kg
3 4,5 800 kg
4 4,0 1000 kg

Setelah tanah dibajak dan digaru kemudian tambahkan pupuk dasaran dan dolomit. Kemudian digacar (plotting) sesuai ukuran bedeng yang dikehendaki. Pemberian pupuk dasaran juga bisa dilakukan setelah tanah digacar, teknik ini biasanya dilakukan jika lahan hanya dicangkul dan tidak dibajak terlebih dahulu.

Idealnya pupuk dasaran diberikan pada dasar bedengan sebelum bedengan dibuat, bukan diberikan diatas bedengan yang telah jadi. Hal ini berkaitan dengan efektifitas penyerapan hara tanaman karena nantinya akar akan tumbuh ke bawah dan langsung dapat menyerap pupuk tersebut.

1.2  Pemasangan mulsa

Pemasangan mulsa dilakukan pada siang hari saat cuaca panas, antara jam 9-11 siang agar mudah ditarik, direnggangkan dan dipotong sesuai panjang bedengan. Pada bagian tepinya digunakan pasak bambu untuk menguncinya sehingga mulsa tidak mudah lepas, terutama saat ada angin kencang.

mulsa pada penanaman cabai sangat direkomendasikan karena mulsa bermanfaat dalam menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma serta menekan perkembangan hama vektor penyakit seperti trips, lalat buah, ulat grayak yang berkepompong di tanah.

Setelah itu mulsa dilubangi sesuai jarak tanam. Jarak tanam cabai pada musim kemarau yaitu 40 x 50 cm, dan pada musim hujan 50 x 60 cm.

Jarak tanaman dan lebar bedeng akan berpengaruh terhadap jumlah tanaman dalam luasan tertentu. Jarak tanam dan lebar bedeng inilah yang digunakan sebagai acuan dalam menghitung jumlah tanaman sehingga akan diketahui berapa jumlah benih yang dibutuhkan. Secara otomatis hal ini juga memudahkan kita dalam menghitung kebutuhan kita akan lanjaran dan kebutuhan pupuk per tanaman atau per luasan tertentu.

Baca juga :

Cara mudah menanam TIMUN, siapapun bisa!

Cara menghitung kebutuhan benih

10 Hama Tanaman Hortikultura yang wajib anda tahu! Bagian 1


2.  Penanaman

2.1  Tanam (transplanting)

Penanaman dilakukan pada sore hari mulai jam 2-3 sore, agar tanaman tidak mati karena layu yang disebabkan suhu yang tinggi. Dua hari sebelum tanam lahan di leb (digenangi) setinggi ½ bedeng. Selanjutnya diberi insectisida berbahan aktif karbofuran misal furadan atau wingran 1 g/tanaman 2 hari sebelum tanam.

Loading...

Setelah pindah tanam, disiram air kurang lebih 250 ml/lubang tanam, pagi atau sore agar dapat tumbuh dan tidak stress. Dan selenjutnya disiram pagi dan sore. Penyulaman maksimal 3-7 hari setelah tanam.

2.2  Pemasangan lanjaran dan ikat

Lanjaran dipasang ketika tanaman sudah berumur 3-4 minggu. Lanjaran berguna untuk memperkokoh tanaman. Batang tanaman di ikat kan ke lanjaran dengan tali rafia. selanjutnya pengikatan dilakukan mengikuti pertumbuhan tanaman.

?


3.  Perawatan

3.1  Pengairan

Pengairan dilakukan dengan cara penyiraman atau pengocoran. Pengocoran dilakukan setiap hari sejak tanam sampai tanaman cabai berumur 2-3 minggu. Setelah itu pengocoran dilakukan dua kali seminggu disesuaikan dengan kondisi tanaman dan lingkungan.

3.2  Penyiangan

Beberapa gulma atau rumput liar berperan sebagai inang dari beberapa jenis OPT. Jadi untuk menekan perkembangan OPT sedini mungkin penyiangan perlu dilakukan terhadap gulma tersebut antara lain wedusan (Ageratum conyzoides) yang merupakan inang dari hama kutu kebul (Bemisia tabaci), yaitu vektor penyakit virus kuning gemini. Waktu yang tepat dalam melakukan penyiangan adalah sebelum dilakukan pemupukan susulan.

3.3  Pemupukan susulan

Pemupukan susulan diberikan dengan cara penugalan. Pengocoran efektif dilakukan pada musim kemarau dan tugal dilakukan saat musim hujan.

Susulan I Umur 10-15 hst ZA + NPK, 10 g/tan (1:5), 10 cm di samping lubang tanam
Susulan II Umur 20-25 hst NPK 20 g/tan (1 sendok makan), 20 cm dibawah lubang tanam
Susulan III Umur 50-60 hst NPK 20 g/tan (1 sendok makan), 30 cm dibawah lubang tanam

Selain dosis pupuk diatas untuk mempercepat pertumbuhan penambahan pupuk lain seperti Multi NP, Multi KP, KNO3 bisa digunakan (sesuai dengan dosis)

3.4  Pengendalian Hama Penyakit

Penyemprotan obat jika

  • Kondisi normal (preventif) : 1-2 x seminggu
  • Banyak serangan (kuratif) : 2-4 x seminggu

Penyemprotan dalam kondisi normal merupakan pengendalian OPT secara preventif atau pencegahan, sedangkan jika banyak serangan dilakukan secara kuratif yaitu jika populasi hama atau intensitas serangannya telah mencapai ambang batas pengendalian. Ambang batas pengendalian adalah tingkat populasi atau tingkat serangan hama yang harus dikendalikan agar tidak menimbulkan kerugian atau kegagalan panen.

Untuk tingkat serangan yang berat gunakan variasi dalam penyemprotan selain agar terjadi efektifitas juga menghindari resistensi hama penyakit. Misalnya jika terjadi serangan trips yang parah, bahan aktif imidakloprid dan piridaben di komparasi dengan emamektin atau abamektin.

setting fruit

Hama yang biasanya menyerang tanaman cabai antara lain:

1.  Trips (Thrips sp), merupakan hama yang berperan sebagai vektor penyebaran virus. berukuran kira-kira 1 mm.

Gejala serangan; daun kering ke atas, daun menguning dan pertumbuhan kerdil.

Pengendalian: dengan insectisida berbahan aktif metomil, emamektin, imidakloprid, beta siflutrin, klorpirifos, abamektin dan lain-lain.

Ambang pengendalian: 10 nimfa per daun

2.  Kutu daun persik (Myzus persicae), bewarna kuning, kuning kemerahan, hijau gelap dan hitam. berukuran 1-2 mm. hama ini juga sebagai vektor virus.

Gejala serangan: pucuk daun menjadi keriput, keriting dan menggulung.

Pengendalian: dengan insectisida berbahan aktif tiametoksam, emamektin, imidakloprid, beta siflutrin, deltametrin, abamektin dan lain-lain.

Ambang pengendalian: 0,7 ekor per daun

3.  Ulat buah (Helicoverpa armigera)

Gejala serangan: ditandai adanya lubang pada buah. ulat ditemukan di dalam buah.

Pengendalian: dengan insectisida berbahan aktif lamda sihalotrin, emamektin, beta siflutrin, deltametrin, abamektin dan lain-lain.

Ambang pengendalian: 1 larva per tanaman sampel.

4.  Tungau merah (Tentranychus sp)

Gejala serangan: ditandai adanya warna tembaga di bawah permukaan daun bawah daun, tepi daun mengeriting, daun melengkung ke bawah seperti sendok terbalik.

Pengendalian: dengan insectisida berbahan aktif amitraz, difokol, tetradifon, propargit, piridaben, abamektin dan lain-lain.

Ambang pengendalian: intensitas serangan 5 %

5.  Ulat grayak (Spodoptera litura)

Gejala serangan: ditandai daun berlubang karena dimakan oleh hama ini.

Pengendalian: dengan insectisida berbahan aktif lamda sihalotrin, emamektin, beta siflutrin, deltametrin, asefat, abamektin dan lain-lain.

Ambang pengendalian: intensitas serangan 12,5 %

6.  Lalat penggorok daun (Liriomyza huidobrensis)

Gejala serangan: ditandai adanya bintik-bintik putih dan alur korokan yang bewarna putih pada permukaan daun.

Pengendalian: dengan insectisida berbahan aktif lamda sihalotrin, emamektin, beta siflutrin, klorfenapir, dimehipo, abamektin dan lain-lain.

Ambang pengendalian: intensitas serangan 10 %


4.  Panen

Panen dilakukan pada saat tanaman cabai berumur 70-75 hari setelah tanam jika di dataran rendah dan telah berumur 85-90 hari setelah tanam jika di dataran tinggi. Buah cabai yang dipanen adalah yang telah matang penuh yaitu yang telah merah sempurna.

cabai keriting

sumber gambar: http://bisnis.liputan6.com/

Dalam panen cabai hendaknya diperhatikan hal-hal berikut;

  1. Panen dilakukan saat cuaca cerah agar sisa-sisa embun yang menempel pada buah sudah menguap sehingga dipastikan bebas dari penyakit.
  2. Dalam memetik buah cabai agar dilakukan secara hati-hati agar ranting tidak patah.
  3. Pengangkutan cabai jarak jauh sebaiknya menggunakan wadah plastik hal ini menghindari buah cabai patah atau memar sehingga akan menurunkan kualitasnya.

Nah, bagaimana sobat belajartani.com cukup mudah bukan dalam membudidayakan tanaman cabai merah? Anda dapat mulai mencoba dengan luasan yang tidak luas terlebih dahulu sebagai tahap awal belajar. Jika anda sudah memahami karakter tanaman cabai ini anda dapat mencoba dengan luasan yang lebih besar. Semoga bermanfaat, terimakasih.

Bagikan ke teman anda :
  • 10
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    10
    Shares
  •  
    10
    Shares
  • 10
  •  
  •  
  •  
  •  

Tambahkan sebagai Teman

Arsip BelajarTani.com

Choose Language

Follow BelajarTani.com

Terimakasih telah mengunjungi BelajarTani.com, Jangan lupa like and share ya Sob..! [HL♥PISD]